Pemerintah Berencana Tambah Mesin Pengering Padi

Rabu, 7 Februari 2018 | 19:48 WIB

Kepala Distanhut Rembang Suratmin. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Pemerintah Kabupaten Rembang berencana menambah jumlah mesin pengering padi atau box dryer untuk dibantukan ke petani.

Penambahan box dryer ini sebagai salah satu upaya untuk membantu petani ketika terik matahari untuk mengeringkan gabah kurang.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang Suratmin menyebutkan, sejauh ini, jumlah mesin pengering padi di daerah ini hanya dua unit.

Pihaknya lebih banyak memberikan bantuan terpal kepada petani sebagai media untuk mengeringkan padi hasil panen yang masih basah.

“Baru tahun ini kita tambah lagi mesin pengering. Saat ini, kita ya bantu terpal. Biar kalau sinar matahari kurang, bisa dijemur di terpal dulu,” katanya.

Panen padi di Kabupaten Rembang sudah berlangsung di sejumlah daerah. Setelah Sluke, Rabu (7/2/2018) pagi giliran Sumber yang melakukan panen raya. Panen dilakukan di Megulung.

Menurut Suratmin, dari hasil ubinan, produktivitas padi hasil panen di Megulung mencapai 10 ton per hektare. Mutu gabahnya pun bagus karena masuk kategori medium.

Panen raya di Desa Megulung ini menggunakan alat perontok padi manual. Tidak menggunakan alat combine harvester.

Suratmin mengakui, panen menggunakan mesin, gabahnya cenderung lebih bersih daripada memakai perontok manual.

“Tadi panen, diubin, 10 ton per hektare; gabah kering panen. Kualitasnya medium dan belum bersih sekali. Rontoknya pakai manual, tidak mesin. Itu harganya Rp4.000, kalau pakai mesin combine harvester harganya sampai Rp5.500,” katanya.

Ketua Kelompok Tani Margo Utomo Desa Megulung Jarsim mengatakan, dari 1.100 meter persegi sawahnya, dihasilkan gabah kering panen 1.089 kilogram.

Biaya yang dikeluarkannya sekitar Rp1,5 juta lebih. Dengan harga gabah kering panen di tingkat petani yang Rp4.000 per kilogram, Jarsim meraup uang Rp2,8 juta.

Namun ia mengeluhkan tidak adanya irigasi di daerahnya, sehingga ketika tingkat curah hujan tersendat, petani diselimuti keresahan.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan