Pasar Menjanjikan, Regenerasi Pembatik di Rembang Mulus

Sabtu, 19 Juli 2014 | 16:00 WIB
Sulastri (baju biru, ujung), warga Desa Karaskepoh Kecamatan Pancur, saat membatik pada Sabtu (19/7) pagi. (Foto Pujianto)

Sulastri (baju biru, ujung), warga Desa Karaskepoh Kecamatan Pancur, saat membatik pada Sabtu (19/7) pagi. (Foto Pujianto)

PANCUR, MataAirRadio.net – Industri kerajinan batik tulis khas lasem ditengarai kian berkembang seiring semakin luasnya areal pemasaran. Salah satu akibatnya, perajin jadi tidak kesulitan melakukan regenerasi pembatik dari kaum muda atau remaja. Kelestarian batik tulis pun disebut belum akan terancam.

Di Desa Karaskepoh Kecamatan Pancur misalnya. Di kampung batik ini, sebagian besar remaja yang bersekolah pada pagi harinya, langsung menyambung aktivitas membatik di siang hingga sore hari. Di sekolah pun, para remaja ini mendapatkan pelajaran muatan lokal dan ekstrakurikuler membatik.

Kepala Desa Karaskepoh Siti Sri Murniati juga menilai, kaum muda di desanya antusias membudayakan membatik. Budaya ini diyakininya tidak akan pudar seiring pasar batik tulis yang telah merambah pasar ekspor. Kehadiran kaum muda juga membawa angin segar untuk memasarkan batik via internet.

Selain di Karaskepoh, kampung batik juga berada di Desa Babagan dan Karasgede Kecamatan Lasem serta Desa Pohlandak dan Pancur Kecamatan Pancur. Di lima kampung ini, sedang dikembangkan pula agrowisata batik, yakni industri kerajinan batik yang ditopang pengembangan pertanian dan peternakan.

Sulastri, salah seorang perajin batik tulis khas lasem membenarkan, regenerasi pembatik kini berjalan relatif mulus. Dia menyebut banyak kaum muda yang tak lagi canggung dan malu menekuni batik. Dia pun berbagi pengalamannya, melatih keterampilan membatik bagi para remaja.

Menurutnya, di tahap awal, remaja yang sedang berlatih membatik, meniru saja pola, mengamati cara membatik, lalu mulai mempraktekkan dengan cara meneruskan pekerjaan dari mentornya. Semangat tinggi, membantu kaum muda cepat bisa membatik.

Masriah, perajin batik tulis khas lasem lainnya menyebutkan, rata-rata bisa diselesaikan 4-5 lembar kain batik tulis dengan warna blok dalam sehari. Dari jumlah itu, dia mampu mengantongi upah paling tidak Rp75.000. Setiap hari dia bekerja sejak jam tujuh pagi hingga jam empat sore.

Meski pasar batik berkembang cukup pesat dan luas, Pemerintah diharapkan membantu permodalan bagi perajin kecil seperti dirinya. Bagaimanapun dia juga ingin berkembang seperti mereka yang kini sudah memasarkan sendiri batik tulis, hingga ke luar daerah bahkan mancanegara. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan