Pelanggan PDAM Komplain, Tarif Naik Namun Kualitas Air Buruk

Jumat, 15 Maret 2019 | 18:27 WIB

Tangkapan layar pesan pendek kepada pelanggan PDAM Rembang mengenai kenaikan tarif air minum. (Foto: mataairradio.com)

 

 

REMBANG, mataairradio.com – Keluarnya kebijakan dari perusahaan daerah air minum (PDAM) Rembang tentang kenaikan tarif membuat banyak pelanggan mengeluh.

Rina salah satu pelanggan PDAM asal Desa Turusgede Kecamatan Rembang mengaku mendapatkan informasi kenaikan tarif dari selebaran yang diberikan oleh salah satu petugas PDAM pada Jumat (15/3/2019) pagi.

Dirinya mengeluhkan kebijakan tersebut, pasalnya kenaikan tarif PDAM tidak dibarengi dengan kualitas air yang bagus. Selain itu kelancaran air juga masih jauh dari kata memuaskan.

Untuk kualitas air, Rina sempat menyindir jika PDAM bukanlah perusahaan daerah air minum namun perusahaan daerah air mandi. Karena produksi air dari perusahaan pelat merah ini hanya bisa digunakan untuk mandi dan mencuci saja sedangkan untuk minum dirinya masih mengeluarkan anggaran untuk membeli air dari gunung.

Sedangkan untuk kelancaran air, ditempatnya tinggal masih diberlakukan penggiliran air oleh PDAM. Artinya air tidak setiap hari mengalir namun dua atau tiga hari sekali air baru mengalir.

Ibu dua orang anak ini berharap kebijakan kenaikan tarif air juga diimbangi dengan kualitas serta kelancaran air agar pelanggan tidak dirugikan oleh pihak PDAM. Dirinya setiap bulan rata-rata mengeluarkan Rp 100 ribu untuk air, dan belum tahu biayanya nanti setelah naik.

“Semoga naiknya tidak terlalu tinggi Mas, karena kebutuhan yang lain juga banyak,” harapnya.

Sementara itu, Dirut PDAM Mohamad Affan saat dihubingi reporter MataAir Radio pada Jumat (15/3/2019) siang melalui sambungan telepon membenarkan bahwa pihaknya menaikkan tarif air kepada pelanggan PDAM mulai pembayaran April 2019 mendatang.

Menurutnya kebijakan tersebut sudah sangat tepat mengingat PDAM Rembang sejak delapan tahun lalu belum pernah menaikkan tarif, padahal kebutuhan operasional meliputi listrik, solar (BBM), dan bahan kimia untuk pengolahan air sudah naik beberapa waktu lalu.

Hitungan kenaikan tarif adalah 20 persen per kubik dibandingkan dengan tarif lama, batas minimum pembayaran yang awalnya Rp 29.500 per bulan menjadi Rp 35.500 per bulan. Sedangkan batas maksimum tergantung dengan penggunaan air oleh para pelanggan.

Disinggung komplain pelanggan terkait kualitas air, Affan mengklaim bahwa kualitas air produksi dari PDAM layak minum karena sudah diteliti tiap bulan oleh pihak yang kompeten.

Namun dirinya mengakui ada beberapa wilayah yang memang kualitas layak air bersih jadi hanya bisa digunakan untuk mandi dan mencuci. Oleh karena itu salah satu solusinya adalah menaikkan tarif karena mengubah kualitas layak air bersih menjadi layak minum membutuhkan bahan kimia yang mahal.

“Kalau ada yang komplain tentang kualitas air silahkan laporkan ke PDAM, kita dengan senang hati menerimanya dan akan menindaklanjuti komplain tersebut,” tegasnya.

Pria asal Desa Pamotan ini mengatakan bahwa kebijakan tersebut sudah sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Bupati nomor 690/1971/2018 yang dikeluarkan tanggal 13 Desember 2018.

 

 

Penulis: Mohamad Siroju Munir
Editor: Mohamad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan