Benahi Lampu Usai Main Bola, Pelajar Tewas Kesetrum

Senin, 15 Desember 2014 | 16:06 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

 
SUMBER, mataairradio.com – Seorang anak yang berstatus pelajar kelas dua madrasah tsanawiyah di Kecamatan Sumber meregang nyawa akibat kesetrum ketika membenahi lampu kamarnya pada Minggu (14/12/2014) sekitar pukul 18.30 WIB kemarin.

Korban yang bernama Setyo Budi (14), warga Dusun Bodeh Desa Grawan Kecamatan Sumber. Saat kejadian, Ndun Rofii dan Sukini, kedua orang tuanya, tidak berada di rumah karena menjenguk tetangga yang sedang dirawat di rumah sakit.

Begitu pulang, bapak-ibu korban pun kaget, karena sudah mendapati Setyo Budi tergolek tanpa nyawa di lantai kamar. Baju korban tampak basah dan ada luka bakar di bagian jempol tangan kanan.

“Begitu mendapat laporan, saya segera ke lokasi kejadian dan menghubungi polisi,” ungkap Kepala Desa Grawan, Saji.

Informasi yang dihimpun, baju korban yang basah karena Setyo Budi terakhir kali diketahui mencuci sepeda motornya. Korban juga sempat diketahui main bola bersama teman-teman sebayanya di tanah lapang di dusun setempat.

Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Sumber Aiptu Taat Ujianto yang kemudian datang ke lokasi kejadian bersama tim dokter dari puskesmas, segera menggelar olah TKP.

“Kami memastikan korban meninggal murni akibat kesetrum listrik,” ungkapnya.

Dia menegaskan, tidak ada luka tanda bekas kekerasan di tubuh korban. Tim dokter dan polisi memastikan pula bahwa luka bakar di jempol tangan kanan korban, akibat sengatan arus listrik.

Setyo Budi adalah anak pertama dari dua bersaudara, buah hati Ndun Rofii dan Sukini. Keluarga tak menyangka anak periang itu bakal meninggal secepat itu. Sementara Senin (15/12/2014) pagi, jenazah korban dimakamkan di tempat pemakaman umum dusun setempat.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan