Pengetahuan Pekebun Tantangan Pengembangan Cengkih Rembang

Sabtu, 19 April 2014 | 15:29 WIB
Seorang perempuan pekebun di Desa Kajar Kecamatan Lasem menjemur cengkih hasil panennya, baru-baru ini. (Foto Pujianto)

Seorang perempuan pekebun di Desa Kajar Kecamatan Lasem menjemur cengkih hasil panennya, baru-baru ini. (Foto Pujianto)

BULU, MataAirRadio.net – Tanaman perkebunan jenis cengkih akan kembali dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Rembang tahun ini. Namun rencana itu diadang tantangan pengetahuan pekebun mengenai pengembangan dan jaminan harga cengkih pasca-panen.

Rempah-rempah yang dikenal sebagai bahan penyembuh batuk dan pereda kolesterol tinggi ini, akan dikembangkan di sejumlah wilayah di antaranya Desa Dadapan Kecamatan Sedan, Kecamatan Sale, dan Dusun Banyurip dan Ngatoko Desa Pasedan Kecamatan Bulu.

Kepala Desa Pasedan Kusman mengatakan, belum pernah ada pengembangan cengkih di daerahnya. Namun melihat geografis dua dusun itu cukup memungkinkan dikembangi cengkih. Hanya saja, pekebun di desanya awam dengan cengkih dan belum tahu prospeknya.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Yosophat Susilo Hadi mengaku akan memetakan calon daerah pengembangan cengkih secara lebih jelas. Intinya, secara geografis, berada di ketinggian 200 meter di atas permukaan air laut.

Kecamatan yang dibidik memang telah ditentukan, yakni Bulu, Sale, Sedan, Kragan, Lasem, dan Sluke, dengan total luasan 500 hektare. Namun daerah persisnya akan dicek terlebih dahulu dengan melibatkan tenaga ahli dari salah satu perusahaan pabrikan rokok ternama.

Menurutnya, pelibatan ahli ini penting agar pengembangan cengkih bisa tepat sasaran. Selain itu, muncul harapan, pengembangan cengkih bisa dikembangkan secara kemitraan, sebagaimana tembakau agar harganya terkendali.

Yosophat mengakui, pengetahuan pekebun mengenai cengkih diperlukan, misalnya berkaitan dengan prospek harga setelah panen. Data di pihaknya menyebut, pernah ada 11.000 bibit cengkih yang dikucurkan pada 2011, namun gagal dikembangkan karena kurang perhatian dan pekebun menyebutnya berprospek rendah. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



One comment
  1. Beta Aprikartika

    Mei 4, 2014 at 1:37 pm

    Seharusnya pemerintah daerah juga mempertimbangkan aset yang dimilikinya yaitu SDM (Pemuda-pemudi Rembang). Saya rasa banyak sekali pemuda-pemudi Rembang yang melanjutkan pendidikannya di bidang pertanian. Namun sangat disayangkan sebagian besar dari mereka lebih memilih menerapkan ilmu mereka kepada daerah lain yang notabenenya lebih maju. Sedikit saran bagi pemda (Dinas Pertanian dan Kehutanan) mohon sesekali membuka lowongan dan kesempatan secara terbuka untuk pemuda-pemudi Rembang yang berkecimpung di dunia pertanian, entah itu melalui kompetisi lokal, program kerjasama mahasiswa dan sebagainya. Maju terus Pertanian Rembangku!

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan