Pecinta Lasem Sepakat Pertahankan Warisan Budaya

Saturday, 18 November 2017 | 17:43 WIB

Anita Firdausi berasal dari Jakarta membeberkan potensi menarik Lasem dari kacamata dunia pada diskusi “Ngopi Gayeng” di Lawang Ombo, Soditan, Lasem, Sabtu (18/11/2017). (Foto: Mohammad Siroju Munir)

 

LASEM, mataairradio.com – Para pecinta Lasem dari berbagai daerah di Indonesia menyatakan sepakat untuk mempertahankan warisan budaya di kota tua ini.

Pernyataan ini terungkap dari diskusi “Ngopi Gayeng”, Sabtu (18/11/2017) pagi. Diskusi merupakan rangkaian dari kegiatan Lasem Festival yang berlangsung sejak Rabu (15/11/2017).

Ratusan peserta berasal dari Rembang, Malang, Yogyakarta, dan Jakarta tampak “gayeng” mengikuti diskusi yang berlangsung selama lebih dari 2,5 jam di Lawang Ombo, Soditan, Lasem.

Diskusi juga diikuti oleh Bupati Rembang berikut jajaran petinggi kabupaten, termasuk Kapolres AKBP Pungky Bhuana Santoso dan Wakil DPRD setempat, Gunasih.

Yana Arsyadi, seorang pencinta Lasem berasal dari Jakarta menyebut Lasem memiliki potensi pariwisata relatif lengkap mulai warisan bangunan kuno, kopi lelet, dan batik tulis.

Ia tidak datang sendiri, tetapi bersama beberapa orang yang merupakan pelaku media kreatif, barista, dan pengusaha ternama seperti Agung Hartono Direktur Eksekutif JakTV.

“Kami membawa orang-orang yang cinta Lasem dan bermimpi Lasem bisa dikunjungi wisatawan luar negeri, mulai dari ahli perhotelan, dari media, pengusaha, dan barista,” terangnya.

Pada kesempatan itu, Yana yang mengajak banyak koleganya di Jakarta untuk datang ke Lasem menyebut bangunan kuno di daerah ini akan menarik bagi para pelancong mancanegara. Apalagi Lasem memiliki memiliki batik tulis yang oleh Yana disebut sebagai batik lukis.

Anita Firdaus, pemateri lain pada diskusi itu menyebut Lasem sebagai surga dunia.

Ia mengaku sudah berkeliling Asia bahkan sampai ke Tiongkok, tetapi belum pernah menemukan rangkaian bangunan kuno China yang masih banyak dan tertata serta mempunyai halaman yang luas, seperti di Lasem.

“Sungguh luar biasa. Saya sudah keliling Asia belum pernah mendapati rangkaian kompleks bangunan kuno China yang cukup banyak. Di China saja banyak bangunan kuno dirubuhkan dan diganti dengan gedung-gedung baru,” tegasnya.

Anita berharap masyarakat Lasem tidak mengancurkan bangunan kuno tersebut alias mesti mempertahankannya.

Menurutnya, bangunan bercorak China kuno bisa dibuat homestay atau rumah tinggal bagi para wisatawan khususnya dari luar negeri.

“Kami membawa orang-orang yang ahli dalam berbagai bidang. Ada dari perhotelan, media branding, dan pengusaha tujuannya adalah untuk mem-branding Lasem menjadi destinasi wisata. Jangan sampai bangunan-bangunan yang bernilai tinggi ini diganti dengan gedung-gedung,” paparnya.

Zaenal Arifin, salah satu peserta diskusi menyatakan cukup antusias dengan jalannya acara, dan cukup puas dengan isi diskusinya.

Menurutnya, ide-ide kreatif akan muncul dengan banyaknya diskusi serupa. Apalagi Lasem diharapkan tumbuh menjadi destinasi wisata menarik.

“Bagus Mas diskusinya. Kalau Lasem menjadi kota wisata di Pantura kan bisa menghasilkan banyak uang serta membuka lapangan pekerjaan.

Diskusi-diskusi semacam ini kayaknya perlu diperbanyak,” tegas salah seorang tenaga pendamping desa di Kecamatan Lasem ini.

 

Penulis: Mohammad Siroju Munir
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan