Aktivis Pecinta Alam Rembang Sebar Selebaran Dampak Pabrik Semen

Jumat, 27 Juni 2014 | 15:59 WIB
Aksi aktivis pecinta lingkungan di Kabupaten Rembang yang membagi-bagi selebaran dampak negatif pendirian pabrik semen, Jumat (27/6) pagi. (Foto:Pujianto)

Aksi aktivis pecinta lingkungan di Kabupaten Rembang yang membagi-bagi selebaran dampak negatif pendirian pabrik semen, Jumat (27/6) pagi. (Foto:Pujianto)

REMBANG, MataAirRadio.net – Sekitar 20 orang mahasiswa dan aktivis pecinta alam di Kabupaten Rembang, Jumat (27/6) pagi menggelar aksi bagi-bagi selebaran berisi dampak negatif dari rencana pendirian pabrik semen di wilayah Kecamatan Gunem. Aksi dilakukan dengan menyusuri gang-gang kecil di bilangan Kota Rembang, sejak jam delapan pagi hingga jam setengah dua belas siang.

Koordinator Aksi Achmad Yoki Febrima mengklaim, aksi tersebut sebagai bentuk penyadaran kepada warga mengenai efek pendirian pabrik semen terhadap keberlangsungan sumber air. Aktivis pecinta lingkungan berpendapat, penambangan yang akan dilakukan oleh pihak pabrik semen berada di daerah imbuhan air.

Yoki menegaskan, jika daerah ini ditambang, sumber air di wilayah pegunungan dikhawatirkan rusak. Dampaknya, pelanggan air bersih yang ada di wilayah Kota Rembang akan terganggu. Disebutkannya, saat ini saja, belum semua warga terlayani air bersih karena debit terbatas.

Para aktivis pecinta alam ini juga menganggap, fokus tuntutan yang menginginkan agar PT Semen Indonesia tak jadi beroperasi di Rembang, cukup strategis. Menurut Yoki, jika Semen Indonesia berhenti, pelaku usaha penambangan lainnya di wilayah Gunem, juga akan mengikuti.

Untuk diketahui, di wilayah Kecamatan Gunem dan Sale, beroperasi sejumlah usaha pertambangan seperti Bangun Arta, Sinar Asia Fortuna, ICCI, Amir Hajar Kilsi, dan Arga Wastu. Yoki menegaskan, dari sekian usaha pertambangan ini, PT Semen Indonesia yang akan paling besar.

Lagi pula, pihaknya menganggap, lokasi pertambangan dari perusahaan semen milik Negara ini, yang terbanyak berada di wilayah Cekungan Air Watu Putih. Kawasan ini oleh para aktivis lingkungan disebut sebagai kawasan imbuhan air yang tak boleh ditambang.

Sementara itu, Pakar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan atau Amdal dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta Profesor Hafidz Fandeli mengatakan, kegiatan penambangan yang akan dilakukan PT Semen Indonesia, telah melalui kajian dampak lingkungan.

Menurutnya, semua dampak positif dan utamanya dampak negatif, telah diidentifikasi, diprediksi, dan dievaluasi meskipun kegiatan tambang belum dilakukan. Hafidz merupakan salah satu tim penyusun Amdal pabrik semen PT Semen Indonesia di Rembang.

Dalam menangani ekses lingkungan akibat kegiatan pabrik semen, sejumlah pakar sudah memperhitungkan seluruh aspek yang ada di situ seperti fisik alam, tanah, gamping, air, telaga, dan sumber air. Pihaknya juga sudah membuat desain dari kegiatan penambangan yang tidak merusak sistem dan ekosistem. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan