PCNU Rembang Sikapi Wacana Pelarangan Cadar dan Celana Cingkrang

Minggu, 3 November 2019 | 08:52 WIB

Ilustrasi (Foto: indiatoday.in)

REMBANG, mataairradio.com – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Rembang sikapi wacana kontroversial yang disampaikan Menteri Agama Fahrul Rozi terkait pelarangan cadar dan celana cingkrang (potongan celana di atas mata kaki) untuk aparatur sipil negara (ASN) di instansi pemerintah baru-baru ini.

Sekretaris PCNU Rembang Muhtar Nur Halim menyatakan bahwa jika Kementerian Agama menganggap bahwa hal tersebut (cadar dan celana cingkrang) merupakan bibit-bibit radikalisme silahkan dilarang.

Namun jangan kemudian ada klaim bahwa cadar atau celana cingkrang adalah bentuk radikalisme, dan perlu dipelajari serta diperjelas radikalisme itu seperti apa. Sehingga tidak ada salah penafsiran tentang radikalisme.

“Silahkan saja buat kajian mendalam, jika cadar dan cingkrang dianggap hal yang kemudian berpotensi melahirkan radikalisme silahkan dilarang,” ungkapnya.

Muhtar menambahkan jika NU tidak dalam posisi menilai setuju atau tidak dalam hal ini. Kalaupun wacana ini diteruskan dalam bentuk peraturan, maka sah-sah saja karena terbatas di lingkup kantor-kantor instansi pemerintah.

Adib Ulinnuha, tokoh Muhammadiyah Rembang menganggap bahwa pemerintah tidak seharusnya mengurusi hal-hal yang masuk ruang privat karena seharusnya negara mengurusi hal yang bersifat publik.

Namun demikian terkait hukum cadar memang ada perbedaan di kalangan ulama, dan dalam hal ini seharusnya MUI segera mengeluarkan fatwa terkait hukum cadar.

Disinggung hubungan cadar dan celana cingkrang dengan radikalisme, Adib mengingatkan cara terbaik melawan radikalisme ialah dialog dan literasi bersama dengan penegak hukum.

“Sebaiknya ada dialog dong tentang radikalisme, kayaknya kok jualan radikalisme sangat laku akhir-akhir ini,” pungkasnya.

Penulis : Mohammad Siroju Munir
Editor : Mohammad Siroju Munir

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan