Pasar Batik Pewarna Alami Lesu, Perajin Ogah Produksi

Sabtu, 14 Mei 2016 | 12:20 WIB
Para pembatik sedang berkarya di salah satu rumah produksi batik tulis lasem, Ningrat, baru-baru ini. (Foto: Mukhammad Fadlil)

Para pembatik sedang berkarya di salah satu rumah produksi batik tulis lasem, Ningrat, baru-baru ini. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Para perajin batik tulis lasem mulai ogah memproduksi produk dengan pewarna alami antara lain karena pasar bagi komoditas jenis tersebut disebut lesu.

Ketua Klaster Batik Tulis Lasem Rifai menyebutkan, tingkat permintaan konsumen terhadap produk kerajinannya, hampir semua merupakan batik dengan pewarna sintetis.

“Produksi batik tulis dengan pewarna alami masih terus berjalan, tapi minim. Saya produksi lima persen. Marketnya masih belum dapat yang pas,” ungkapnya kepada reporter mataairradio, Sabtu (14/5/2016).

Menurutnya, batik tulis lasem dengan warna sintetis maupun alam, memiliki segmen pasar masing-masing. Mereka yang di luar negeri, katanya, tak mau dilayani selain dengan warna alam.

“Warna-warna alam cenderung halus, sedangkan warna tiruan hampir selalu terlihat ngejreng,” katanya.

Ia mengakui, dari sisi pencelupan, batik tulis dengan warna alam memerlukan pencelupan lebih banyak dibandingkan dengan yang menggunakan warna tiruan.

“Memang dari sisi harga, batik warna alam memiliki kelas pasar menengah ke atas yang menjanjikan banyak rupiah karena jangkauan pemasaran hingga ke mancanegara,” akunya.

Ia menegaskan, penggunaan warna alam memungkinkan diterapkan oleh para perajin batik tulis lasem, lantaran bahan yang mudah diperoleh dari lingkungan sekitar.

“Warna merah bisa didapatkan dari mengolah hampir semua batang kayu, warna biru atau indigo bisa didapatkan dari daun tom, warna kuning dari kulit kayu mangga, warna cokelat dari batang secang atau akar kelapa, dan warna abu-abu dari kulit buah durian,” paparnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan