Petani Rembang Panen Raya Kedelai 1,5 Ton Per Hektare

Selasa, 21 Oktober 2014 | 15:40 WIB
Panen raya kedelai yang dilakukan petani Desa Ringin Kecamatan Pamotan, Selasa (21/10/2014) pagi. Tanaman kedelai yang dipanen ini dikembangkan melalui program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) dengan hasil rata-rata 1,5 ton per hektare. (Foto: Pujianto)

Panen raya kedelai yang dilakukan petani Desa Ringin Kecamatan Pamotan, Selasa (21/10/2014) pagi. Tanaman kedelai yang dipanen ini dikembangkan melalui program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) dengan hasil rata-rata 1,5 ton per hektare. (Foto: Pujianto)

 

PAMOTAN, mataairradio.com – Para petani di Kabupaten Rembang sedang melangsungkan panen raya kedelai. Selasa (21/10/2014) pagi, petani di Ringin Kecamatan Pamotan yang menggelarnya.

Mereka menghasilkan rata-rata 1,5 ton kedelai dari tiap satu hektare lahan. Jenis kedelai yang petani kembangkan adalah gepak ijo, anjasmara, serta wilis. Tanaman ini dipanen setelah 70-80 hari tanam.

Ketua Kelompok Tani Tri Makmur Desa Ringin Kecamatan Pamotan Mustabi menyebutkan, hampir semua petani kedelai di desanya, memanen lebih dari satu ton kedelai dari setiap satu hektare lahan.

“Kedelai cukup bagus dikembangkan di awal musim kemarau pada lahan sawah seperti yang ada di desa kami. Minimnya air di musim kemarau tak terlalu menjadi soal, karena kedelai cukup tangguh saat cuaca kering,” katanya.

Meski demikian, di daerah yang dilanda kemarau ekstrem dan sama sekali tidak ada irigasi teknis, bisa jadi akan terkendala jika mengembangkan kedelai. Ia pun menandaskan, kemarau ekstrem akibat El Nino mengakibatkan panas yang terik dan lumayan menganggu pasokan air.

“Harganya memang berangsur turun menjadi kurang dari Rp6.000 per kilogram. Biasa lah kalau panen raya mesti begini. Harapannya sih, harganya stabil tinggi, agar petani bisa menikmati,” tandasnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanana Kabupaten Rembang Suratmin menyebutkan, luasan tanaman kedelai di kabupaten ini mencapai 4.000 hektare hingga bulan Agustus 2014.

“Luasan kedelai sekitar 4.000 hektare sampai Agustus kemarin. Namun sampai akhir tahun nanti, luasannya mungkin menjadi sekitar 5.800 hektare karena sejumlah petani baru saja menanamnya pada awal September kemarin,” terangnya.

Pengembangan tanaman kedelai tersebar banyak di empat kecamatan yang selama ini menjadi sentra tanaman kedelai, yakni Pamotan, Sedan, Sarang, dan Gunem.

“Saya kira tidak ada masalah dengan kemarau, mengingat kedelai tergolong tanaman di musim kering. Jika pun butuh air, itu nggak seberapa. Hasil panen masih cukup lumayan. Ya, sekitar 1,5 ton per hektare,” katanya.

Dia membenarkan bahwa kebanyakan petani di Kabupaten Rembang memang mengembangkan kedelai jenis gepak hijau, anjasmara, dan wilis. Menurut Suratmin, ongkos tanam, pemeliharaan, hingga panen kedelai, terbilang irit.

“Kalau soal biaya produksi cukup irit. Sekitar dua juta rupiah per hektare dalam masa waktu tanam hingga panen, 70 hari. Sementara harga jual untuk jenis gepak hijau kini Rp5.700 per kilogram, sedangkan anjasmara dan wilis Rp5.500 per kilogram. Kan lumayan,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan