Panen Melimpah, Petani Cabai di Rembang Kelimpungan

Monday, 8 June 2020 | 21:16 WIB
Petani cabai di Desa Kasreman Kecamatan Rembang memetik cabai, Kamis (22/12/2016). (Foto: Mukhammad Fadlil)

REMBANG, mataairradio.com – Musim panen komoditas cabai di Kabupaten Rembang pada tahun ini melimpah. Hal itu justru membuat para petani cabai di kabupaten ini kebingungan lantaran harganya yang anjlok, sehingga membikin mereka merugi.

Eko Purwanto salah seorang pengepul cabai asal Desa Langgar Kecamatan Sluke mengaku, dirinya beberapa hari terakhir ini merugi cukup banyak akibat gudang cabai yang biasa disetorinya menolak akibat kapasitas gudang penuh.

Sebelumnya Eko membeli cabai dari petani sekitar Sluke dengan harga Rp3.000 per kilogram dengan asumsi akan dijual di gudang dengan harga Rp4.000 per kilogram, namun ketika sampai gudang malah ditolak.

Untuk meminimalisir nilai kerugian, akhirnya dia menjualnya ke pasar dengan harga Rp2.000 per kilogram daripada cabainya membusuk.

Ia menyebutkan, stok cabai miliknya sekitar tiga kwintal, yang didapat dari hasil mengepul di beberapa petani sekitar Sluke.

“Akhirnya saya jual ke bakul-bakul di pasar dengan harga murah. Ada yang dua ribu ada yang seribu lima ratus. Daripada membusuk malah rugi banyak,” ungkapnya baru-baru ini.

Eko menilai, anjloknya harga cabai karena stok yang melimpah dan beberapa pabrik yang biasa mengolah cabai di Juwana dan Semarang sedang tutup.

Ditambah lagi dengan distribusi yang tersendat akibat Pandemi Covid-19, sehingga cabai yang melimpah di Rembang tidak bisa dijual ke luar daerah seperti Pati dan Blora.

Dirinya prihatin melihat petani cabai yang merugi karena harga anjlok, padahal panen kali ini secara kualitas dan kuantitas bisa dikatakan bagus. Namun banyak yang mengeluh apalagi saat memetik cabai juga memerlukan tenaga pemetik sehingga harus tambah pengeluaran biaya.

“Para petani juga kalau memetik kan pakai tenaga dan harus keluar biaya tambahan. Dan saat mereka bawa ke gudang ternyata tidak diterima karena gudang penuh,” pungkasnya.

Harno Petani asal Desa Karaskepoh Kecamatan Pancur mengungkapkan, ongkos pemetik dengan hasil penjualan tidak seimbang.

Rata-rata satu tenaga pemetik dalam satu hari bisa memetik cabai sekitar tujuh kilogram atau paling maksimal sepuluh kilogram. Ongkos untuk tenaga pemetiknya sekitar Rp50 ribu sehari, padahal harga jual cabai sangat murah.

Dari pada merugi dirinya memilih membiarkan cabai membusuk, atau jika ada tetangganya ingin mengambil dipersilahkan dengan perjanjian nanti hasil pemetikan cabai di bagi sesuai kesepakatan.

“Daripada rugi, ya dibiarkan saja. Lha kalau dulu satu kilogram pernah Rp80 ribu ya kita pasti semangat, kalau pun mempekerjakan pemetik pasti tetap ungtung,” pungkasnya.

Penulis : Mohammad Siroju Munir
Editor : Mukhammad Fadlil




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan