Petani Minta Panduan Kualitas Tembakau, Sadana Menolak

Selasa, 26 Agustus 2014 | 19:20 WIB
gudang pembelian tembakau milik PT Sadana Arifnusa Desa Landoh Kecamatan Sulang. (Foto:Rif)

Gudang pembelian tembakau milik PT Sadana Arifnusa Desa Landoh Kecamatan Sulang. (Foto:Rif)

REMBANG, MataAirRadio.net – Belasan petani tembakau perwakilan dari setiap kecamatan berkumpul di Aula Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang pada Selasa (26/8) siang. Mereka antara lain meminta kepada PT Sadana Arifnusa selaku perusahaan mitra untuk menerbitkan buku panduan kualitas.

Menurut petani, buku panduan ini berarti penting agar penentuan kualitas atau “grade” tidak terkesan sepihak dari perusahaan mitra. Petani juga berdalih kualitas kadang ditentukan berbeda dari “grader” yang mengecek. Misalnya sempat disebut F, namun diputuskan ber-grade P oleh grader yang lain.

Safi, seorang petani tembakau dari Desa Mondoteko Kecamatan Rembang mengatakan, buku panduan bisa memuat ketentuan warna dan ketebalan daun tembakau rajangan. Sebab Sadana menyebut, grade F, P, dan S dilihat dari ketebalan daun, sedangkan tingkatan 1,2,3 dilihat dari warna daun rajangan.

Menanggapi permintaan petani itu, Manajer Area PT Sadana Arifnusa Rembang Dedi Kusmayadi menilainya tidak tepat. Pihaknya sulit menggambarkan ketebalan dan warna daun serta aroma yang menjadi pembeda antar-grade dan tingkatan.

Dedi menyarankan agar setiap petani aktif berkomunikasi dengan grader pada saat masa pembelian seperti sekarang. Misalnya ketika grader menyebutkan bahwa kualitas dan grade tembakau yang dijual adalah F1, maka warna, ketebalan daun rajangan, dan aroma bisa diperhatikan oleh petani.

Menurutnya, urusan kualitas merupakan persoalan hafalan alamiah. Setiap petani yang sudah berhubungan lama dengan tanaman tembakau, mestinya sudah terlatih dengan penentuan warna, ketebalan, dan aroma dengan kualitas dan grade.

Mendengar tanggapan dari pihak PT Sadana Arifnusa tentang permintaan panduan kualitas, para petani kembali bersuara. Mereka mengaku takut untuk komunikasi dengan grader. Apalagi, lokasi grader dibatasi oleh pagar, sehingga petani tidak bisa leluasa berkomunikasi.

Namun pihak Sadana menyatakan, petani tidak perlu takut, selagi komunikasi dilakukan secara satu per satu. Sadana pun mengingatkan agar petani sendiri yang menunggui tembakau yang sedang di-grade, sebab selama ini kadang petani lain menunggui grade milik rekannya. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan