Pancaroba dan Angin Kencang Kerek Kasus Disentri

Rabu, 2 Desember 2015 | 17:14 WIB
Pelayanan terhadap pasien anak di RSUD dr R Soetrasno Rembang. (Foto: suaramerdeka.com)

Pelayanan terhadap pasien anak di RSUD dr R Soetrasno Rembang. (Foto: suaramerdeka.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Tingkat kasus penyakit berbasis lingkungan termasuk infeksi saluran pencernaan seperti diare, muntaber, dan disentri di Kabupaten Rembang, terkerek naik pada sebulan terakhir ini.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Ali Syofii mengungkapkan, salah satu penyebab kenaikan tingkat kasus penyakit dan infeksi tersebut adalah berlangsungnya musim pancaroba yang diwarnai angin kencang.

“Pancaroba kini terjadi di Rembang ditandai oleh belum normalnya tingkat curah hujan,” terangnya.

Menurut Ali, paduan pancaroba dan angin kencang akan menyebabkan bakteri atau virus, menjadi mudah menyebar dari satu tempat ke tempat yang lain.

Berdasarkan pantuan, tingkat kasus diare, muntaber, dan disentri cukup banyak ditangani di puskesmas dan di rumah sakit daerah.

Ali Syofii juga menjelaskan, hubungan angin kencang dan pancaroba dengan meningkatnya kasus penyakit akibat infeksi saluran pencernaan, yaitu pada kebiasaan sebagian masyarakat di Rembang yang masih sering buang air besar secara sembarangan.

Menurut catatan pihak dinas kesehatan kabupaten ini, masyarakat yang kini telah memakai jamban sehat baru sekitar 75-77 persen. Hal itu menurut Ali, berarti masih ada sekitar 150-an ribu penduduk Rembang yang BAB sembarangan.

“Perilaku masyarakat seperti itu, belum bersih dan sehat,” katanya.

Diterangkannya, populasi masyarakat yang masih BAB sembarangan potensial menjadi sumber dan menularkan penyakit ke populasi lain.

“Bakteri atau virus yang terbang dibawa angin bisa saja disambut lalat yang kemudian hinggap di makanan. Makanan menjadi tercemar dan jika makanan itu dikonsumsi, maka memicu infeksi,” tandasnya.

Dari catatan pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang pula, sampai dengan 2 Desember ini, jumlah penderita diare di Rembang mencapai 485 orang.

“Data ini kami himpun dari semua puskesmas di Kabupaten Rembang,” bebernya.

Sementara jumlah penderita disentri tercatat 12 orang dari data yang ada di RSUD dr R Soetrasno Rembang.

Adapun kasus demam berdarah sudah dialami 544 orang, dimana 6 penderita di antaranya bahkan sampai meninggal dunia. Data tersebut dikumpul dari puskesmas dan RSUD Rembang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan