Pajak Gula Belum Resmi Dicabut, Petani Risau

Monday, 14 August 2017 | 16:56 WIB

Sejumlah buruh tebang sedang menaikkan tebu ke atas truk guna diangkut ke pabrik gula mitra mereka di Rembang, baru-baru ini. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Petani tebu di Kabupaten Rembang mengaku risau. Pasalnya kebijakan penerapan pajak pertambahan nilai (PPN) sebesar 10 persen terhadap gula tebu belum resmi dicabut setidaknya hingga Senin (14/8/2017) siang.

Sholeh, salah seorang petani tebu di Desa Mlawat Kecamatan Pamotan menyebut, kabar pencabutan penerapan PPN 10 persen terhadap gula tebu masih sekadar lisan. Dampaknya, usaha tebu rakyat di daerah ini menjadi tak bergairah alias lesu.

“Sejak ada kebijakan itu, petani tebu seperti kami jadi seolah lumpuh. Lelang gula di pabrik gula juga lesu. Biasanya Agustus seperti ini puncaknya panen dan rendemen tinggi. Harga gula merah biasanya juga naik. Tapi sekarang masih lesu,” katanya.

Maryono, petani tebu lainnya di Desa Karangharjo Kecamatan Sulang juga menilai, belum jelasnya pencabutan penerapan PPN gula tebu berpengaruh pada semangat petani dalam menggeluti sektor perkebunan rakyat ini.

Apalagi menurutnya, sejak awal musim panen, harga gula pasir cenderung terus mengalami penurunan. Saaat sekarang, harga gula pasir di kisaran Rp9.500 per kilogram, sedangkan harga gula di awal musim atau pada Juni lalu sempat Rp11.000.

“Harga gula terus menurun, sampai sekarang di kisaran Rp9.500 per kilogram. Awal tebang, rendemen tembus tujuh, perolehan per ton bisa Rp550.000 atau Rp600.000. Sekarang paling ketemu Rp500.000 (dengan rendemen yang sama),” jelasnya.

Menurutnya, harga lelang gula ideal Rp11.000 per kilogram, sedangkan harga gula merah Rp7.500 per kilogram. Namun Maryono berpendapat, harga ideal sulit tercapai karena regulasi dari Pemerintah soal PPN gula tebu masih belum jelas.

“Musim panen kali ini mustahil mampu mencapai harga ideal, ya karena regulasinya yang belum jelas itu. HET gula pasir Rp12.500 per kilogram, jadi pedagang nggak berani jual di atas itu. Kalau jual di atas itu ya kena masalah,” tandas Maryono.

Ia juga menambahkan, pasokan panen tebu dari para petani di Kabupaten ke pabrik gula telah mencapai 75 persen, sedangkan pasokan ke industri gula tumbu atau gula merah mencapai 50 persen. Musim giling tebu sendiri berakhir September.

 

Penulis: Mukhammad Fadlil
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan