Padi Diserang Gulma dan Engkuk, Petani Gelisah

Selasa, 9 Februari 2016 | 18:45 WIB

gulma rembang

 

REMBANG, mataairradio.com – Sejumlah petani di Kabupaten Rembang dilanda rasa gelisah karena tanaman padi mereka kini diserang gulma atau tanaman pengganggu dan hama engkuk.

Mereka terancam merugi karena ongkos perawatan tanaman menjadi membengkak.

Jayadi, petani di Desa Sridadi Kecamatan Rembang menyebutkan, serangan gulma dan engkuk akibat tingkat curah hujan yang rendah.

“Soal gulma kami sudah coba menyemprotkan herbisida, tapi seolah tak mempan. Begitu pun dengan engkuk yang sulit dibasmi karena lahan kurang air,” terangnya kepada reporter mataairradio.

Petani memang terpaksa menggunakan cara manual yaitu menyiangi tanaman dari gulma dengan membayar upah Rp40 ribu per buruh tani.

“Tetapi soal engkuk, selagi lahan belum tergenang air, hama itu akan sulit dibasmi,” tegasnya.

Umiyatun, petani lain di Desa Japeledok Kecamatan Pancur juga mengaku sedang direpotkan dengan serangan gulma.

Tanaman pengganggu ini menurutnya muncul ketika curah hujan tidak menentu intensitasnya. Apalagi ia memulai tanam padi dengan sistem gogo rancah atau saat lahan kering.

Saat ini, tanaman padinya pun tidak hanya dikepung gulma, tetapi juga mulai diserang penyakit yang tak diketahui jenisnya.

“Yang jelas, sudah sejak sekitar tiga minggu yang lalu, tanaman padi saya menguning akibat serangan hama,” tandasnya.

Kepada reporter mataairradio Selasa (9/2/2016) pagi, Umiyatun mengakui, memendam kekhawatiran gagal panen.

Kecemasannya makin menjadi karena persediaan gabah di rumahnya sudah menipis atau hanya cukup untuk beberapa bulan ke depan saja.

Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Suratmin mengimbau para petani agar melakukan penyiangan tanaman secara rutin, meski merogoh ongkos lebih.

“Kami menganjurkan penggunaan herbisida, tapi tetap dengan dosis yang normal, agar tanaman padi tak justru mati,” ujarnya.

Sebelumnya ia menyebut kondisi pertanian di Rembang sedang lesu. Salah satu ukurannya adalah luas tanam padi yang sampai akhir bulan Januari kemarin, baru sekitar 20.000 hektare dari luas tanam ideal yang mestinya 30.000 hektare.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan