Peletakan Batu Pertama Pabrik Semen Indonesia Diwarnai Ricuh

Senin, 16 Juni 2014 | 17:59 WIB
Salah seorang warga peserta aksi  penolakan terhadap rencana pendirian pabrik semendiketahui pingsan, Senin (16/6) pagi. (Foto:Pujianto)

Salah seorang warga peserta aksi penolakan terhadap rencana pendirian pabrik semen diketahui pingsan, Senin (16/6) pagi. (Foto:Pujianto)

GUNEM, MataAirRadio.net – Peletakan batu pertama pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) di kawasan antara Desa Kadiwono Kecamatan Bulu dan Desa Kajar Kecamatan Gunem pada Senin (16/6) pagi, diwarnai kericuhan.

Kericuhan terjadi setelah puluhan warga yang hendak menyuarakan penolakan terhadap rencana pendirian pabrik semen, dilarang masuk ke lokasi acara oleh polisi dan tentara. Petugas polisi berdalih aksi mereka tak berizin.

Acara peletakan batu pertama itu sendiri dibungkus dengan kegiatan doa bersama. Kericuhan semakin menjadi ketika salah seorang warga peserta aksi diketahui pingsan. Warga yang lain menduga sempat ada kontak fisik dari aparat yang tengah mengamankan aksi.

Namun petugas tak mengonfirmasinya. Aksi mereka mulai mereda setelah warga yang pingsan ditangani keluarga. Namun mereka bertahan di lokasi pertigaan menuju tapak pabrik. Sutinah, warga Desa Tegaldowo merasa tidak dihargai haknya, sehingga sambil menangis bersuara menolak rencana pendirian pabrik semen.

Sementara di lokasi doa bersama dan peletakan batu pertama, Direktur Utama PT Semen Indonesia (Persero) Dwi Soetjipto mengatakan, SI adalah perusahaan milik warga Negara Indonesia, termasuk yang ada di Rembang.

Semen Indonesia Group kini memiliki pabrik semen di Sumatera, Jawa Timur, Sulawesi, dan segera menyusul di Rembang, Jawa Tengah. Dia juga mengungkapkan akan segera memiliki pabrik baru di Myanmar pada tahun ini, setelah setahun sebelumnya mengakuisisi pabrik semen di Vietnam.

Perusahaan akan melanjutkan invasi investasi pabrik semen di Bangladesh. Menurut Dwi, pihaknya ingin menunjukkan kepada masyarakat dunia khususnya di Asia Tenggara, bahwa Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang kuat dan mumpuni.

Sementara itu, Kapolres Rembang AKBP Muhammad Kurniawan menyatakan tidak sedang menghalangi aksi warga untuk menyuarakan hak menolak rencana pendirian pabrik semen. Hanya saja, jika dilakukan dengan menghalangi jalan, itu dianggapnya mengganggu akses masuk mereka yang hadir.

Soal pengerahan polisi wanita, Kapolres mengaku sengaja menurunkan untuk melakukan negosiasi dengan pengunjuk rasa yang mayoritas perempuan. Pihaknya mempersilakan mereka menyuarakan pendapat, karena sebelumnya pun polisi mengizinkan warga untuk istigasah di sekitar tapak pabrik semen. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan