Warga Penentang Pabrik Semen Pertanyakan Komitmen Gubernur

Sabtu, 5 Juli 2014 | 14:44 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo,  menemui puluhan warga yang bertahan di bawah tenda di dekat lokasi tapak pabrik semen milik PT Semen Indonesia, di kawasan antara Desa Kadiwono Kecamatan Bulu dengan Desa Kajar Kecamatan Gunem, Jumat (27/6) sore. (Foto:Pujianto)

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, menemui puluhan warga yang bertahan di bawah tenda di dekat lokasi tapak pabrik semen milik PT Semen Indonesia, di kawasan antara Desa Kadiwono Kecamatan Bulu dengan Desa Kajar Kecamatan Gunem, Jumat (27/6) sore. (Foto:Pujianto)

GUNEM, MataAirRadio.net – Kelompok masyarakat penentang pendirian pabrik semen di wilayah Kecamatan Gunem Kabupaten Rembang mempertanyakan komitmen dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Mereka sebelumnya diberi waktu seminggu yang jatuh tempo Jumat (4/7) kemarin untuk berembug dengan pihak Gubernur dan pihak PT Semen Indonesia.

Joko Supriyanto, perwakilan dari warga yang ditunjuk untuk mengikuti rembugan itu mengaku telah mengirimkan surat kesiapan untuk berembug dengan berbagai pihak, terkait rencana pendirian pabrik semen di wilayah Kecamatan Gunem pada Senin, 30 Juni lalu. Namun hingga Sabtu (5/7) pagi, surat yang dikirim ke Gubernur itu, belum mendapat balasan.

Pemuda dari Desa Tegaldowo Kecamatan Gunem ini juga mengaku sudah menyiapkan pakar dari kalangan akademisi untuk memberikan argumentasi di forum rembug nanti. Joko pun menyoal belum dibalasnya surat kesiapan itu dengan mempertanyakan Gubernur sibuk, lupa, atau memang ingkar janji.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Agung Wiharto menyatakan belum mendapat undangan dari pihak Gubernur untuk berembug dengan mereka yang terkait, termasuk warga yang masih menentang rencana pendirian pabrik semen.

Dia mengaku tahu kalau Gubernur sempat memberikan waktu satu minggu kepada warga untuk bertemu dan rembugan untuk mencari solusi terbaik dari aksi penolakan tersebut. Agung pun menyatakan tidak tahu kenapa pertemuan belum terjadwal hingga seminggu berjalan.

Namun pihaknya mengaku telah siap diajak berembug, kapan saja. Apalagi selain dokumen, pihaknya juga didampingi ahli dari perusahaan dan ahli dari tim independen untuk meneliti titik karst yang tidak boleh ditambang. Dari total lahan yang dibutuhkan, menurut Agung, perusahaan telah menciutkan bakal areal tambang, dari sekitar hampir 1.400 hektare menjadi sekitar 800 hektare saja.

Sementara itu, hingga Sabtu (5/7) siang, puluhan ibu masih berada di bawah tenda, dekat akses jalan menuju lokasi tapak pabrik, sebagai pernyataan sikap menentang pendirian pabrik semen, meski bersamaan bulan Puasa. Terhitung sudah lebih dari setengah bulan mereka bertahan di tenda atau sejak tanggal 16 Juni lalu. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan