Pabrik Semen di Rembang Tak Pakai Tenaga China

Rabu, 8 Juli 2015 | 18:36 WIB
Presentasi perusahaan tentang progres pabrik semen milik PT Semen Indonesia di Rembang oleh manajer proyek Heru Indra Wijayanto, Selasa (7/7/2015) petang. (Foto: Pujianto)

Presentasi perusahaan tentang progres pabrik semen milik PT Semen Indonesia di Rembang oleh manajer proyek Heru Indra Wijayanto, Selasa (7/7/2015) petang. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Pabrik semen milik PT Semen Indonesia (Persero) Tbk di Rembang mengklaim tak memakai tenaga dan barang pabrikasi dari China. Dalam hal menggunakan produk asing, perusahaan semen nasional ini sebatas mendatangkan peralatan utama dari Jerman.

Manajer Proyek Pabrik Semen PT Semen Indonesia di Rembang Heru Indra Wijayanto menjelaskan, tidak digunakannya tenaga dan barang pabrikasi dari China, karena Indonesia bisa menyediakan. Memang untuk barang pabrikasi, harganya lebih mahal. Tapi tetap ditempuh, demi jalannya ekonomi nasional.

“Kami nggak pakai tenaga dari China. Pabrikasinya juga kami nggak pakai China. Kami kerjasama dengan perusahaan dari Jateng, Jatim, dan Jabar. Memang harganya lebih mahal, tapi demi perputaran ekonomi nasional,” katanya menyikapi kabar 400 pekerja China yang menyusup ke industri persemenan.

Sementara itu, hingga pekan ke-71 atau sejak Februari 2014, pembangunan pabrik semen di wilayah Gunung Bokong Desa Kadiwono Kecamatan Bulu sudah mencapai 52,46 persen. Menurut Indra, perkembangan proyek itu sedikit meleset dari target 53,37 persen.

Ada beragam kendala yang kemudian mengakibatkan sedikit keterlambatan, termasuk kasus kebakaran bekisting atau kayu untuk pengecoran bangunan induk pabrik semen. Tetapi Indra menyatakan hal itu sudah cepat disikapi perusahaan dengan melakukan penggantian.

“Progres kami sudah 52,46 persen. Sedikit terjadi semacam delay, karena target kita 53,37 persen. Tapi kita sedang lakukan percepatan-percepatan agar pabrik selesai terbangun tepat waktu,” tandasnya.

Pabrik semen milik PT Semen Indonesia berkapasitas 3 juta ton per tahun di Rembang dibuat dengan investasi Rp4,45 triliun atau membengkak 20 persen karena depresiasi rupiah. Luas pabrik yang dibangun sekitar 57 hektare, sedangkan luas area tambang 441 hektare, dan area buffer zone 77,9 hektare.

Bahan baku semen, sekitar 80 persennya adalah batu kapur, 17-18 persennya tanah liat, sedangkan sekitar dua persen sisanya adalah pasir besi atau pasir silika. Sementara untuk kebutuhan listrik, pabrik semen tersebut menggunakan seratus persen setrum dari PT PLN (Persero).

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan