Pabrik Gula Kemadu Ditopang Tebu Empat Kecamatan

Rabu, 8 November 2017 | 16:15 WIB

Konsultasi publik guna Amdal pembangunan pabrik gula milik PT Wadah Karya Rembang di Desa Kemadu Kecamatan Sulang, Selasa (7/11/2017). (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pabrik gula yang direncanakan berdiri di wilayah Desa Kemadu Kecamatan Sulang direncanakan ditopang bahan bakunya dari empat kecamatan penyangga yakni Sulang, Bulu, Gunem, dan Sumber.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang Yosophat Susilo Hadi menjelaskan, empat kecamatan tersebut merupakan daerah pengembang tanaman tebu dengan cakupan luasan memadai.

Menurutnya, pabrik gula milik PT Wadah Karya Rembang diperkirakan berkapasitas 1.250 ton per hari, sehingga dukungan bahan baku tebunya diestimasikan bisa dicukupi dari luasan 2.000 hektare.

“Petani tebu dari Sulang, Bulu, Gunem, dan Sumber akan kita dorong untuk bermitra dengan pabrik gula tersebut. Namun bukan berarti petani tebu dari kecamatan lain tidak boleh masuk ke pabrik gula milik WKR,” katanya.

Saat ini, Yosophat menyebutkan, di Kabupaten Rembang, total luasan tanaman tebu mencapai 9.000 hektare. Dari jumlah itu, sekitar 5.000 hektare di antaranya telah bekerjasama dengan tiga pabrik gula.

“Kalau pabrik gula ini bisa bersaing dengan PG Pakis, Rendeng, dan Trangkil yang selama ini telah bekerjasama dengan petani tebu di Rembang, maka ada 4.000 hektare kebun tebu yang masih bisa diandalkan oleh WKR,” katanya.

Agar diminati oleh para petani tebu di Kabupaten Rembang, ia menyarankan agar pihak pabrik gula menampilkan MoU atau nota kesepahaman meliputi bantuan modal dan Saprodi atau sarana produksi yang memadai.

“Kalau harga kompetitif lalu rendemennya bagus, pasti akan digeruduk bahan baku,” katanya.

Sementara itu, mengenai proses pendirian pabrik gula yang saat ini masih pada tahapan studi analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal), pihaknya sudah menyampaikan masukan bagi pihak perusahaan.

“Saran kami, ya agar pabrik ini dalam pemanfaatan air tidak sampai mengganggu sumur warga. Sungai di dekat pabrik, juga agar jangan sampai tercemar. Dan yang penting, tenaga kerja di ring satu, agar jangan sampai dilupakan,” paparnya.

Khusus mengenai kebutuhan air bagi operasional pabrik yang akan berdiri di atas luas lahan lima hektare, Yosophat menganjurkan agar pihak perusahaan membuat embung sendiri.

“Itu pabriknya kan lima hektare, sedangkan kebutuhan tanah yang kini sudah selesai dibebaskan mencapai 50 hektare. Soal air, kita anjurkan pihak pabrik untuk membuat embung sendiri,” tandasnya.

Pihak Bidang Perkebunan menambahkan, secara klasifikasi besaran pabrik, pabrik gula di Kemadu termasuk dalam kategori sedang. Jika dibandingkan dengan pabrik gula di Blora, maka kapasitasnya hanya sepertiga.

“Pabrik gula di Blora itu kapasitasnya sampai 4.000 ton per hari, sehingga pabrik gula yang di Kemadu ini nanti termasuk kelas medium,” imbuhnya.

Menurutnya, apabila dari hasil studi Amdal, pabrik gula tersebut dinyatakan layak, maka paling cepat, operasinya baru di tahun 2019.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan