Operasi di Pasar, Petugas Tak Dapati Daging Berpengawet

Jumat, 25 Mei 2018 | 15:34 WIB

Pedagang menjajakan daging ayam potong di Pasar Rembang. Kandungan formalin dan boraks pada daging ayam potong diwaspadai seiring peningkatan konsumsi pada bulan Ramadan 1439 Hijriyah. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Petugas dari Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rembang tidak mendapati daging sapi dan ayam mengandung pengawet seperti boraks dan formalin saat melakukan operasi kandungan zat berbahaya itu di Pasar Rembang, Jumat (25/5/2018) pagi.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan pada Dintanpan Kabupaten Rembang Idam Rahmadi menyatakan, tidak ada indikasi daging ayam yang dicampur dengan bahan pengawet, termasuk makanan olahan seperti bakso.

“Tidak hanya di Pasar Rembang, indikasi serupa juga tidak ditemukan di Pasar Lasem dan Pamotan yang telah dicek,” ungkap Idam.

Idam mengakui, pihaknya pernah menemukan beberapa pedagang daging ayam yang terindikasi melakukan cara penyembelihan secara kurang sempurna.

“Tiga saluran yang disembelih tak putus sempurna, sehingga diragukan keamanan dan halalnya. Namun setelah dipantau intensif dari waktu ke waktu, pedagang sudah melakukan perbaikan,” katanya.

Seusai melakukan operasi daging berpengawet di Pasar Rembang, Idam membeber kiat yang bisa dipakai oleh masyarakat, guna membedakan daging berpengawet dan yang aman, secara kasat mata.

“Pertama dengan memantau, ada lalat yang datang atau tidak. Lalat tidak datang pada daging yang berpengawet,” terangnya.

Selain itu, membedakan daging berformalin dan yang aman, juga bisa dengan indra penciuman. Bila sudah ada bau aneh atau busuk, namun fisik dagingnya tampak seperti masih baik, maka berpotensi mengandung formalin.

“Dilihat dengan mata juga bisa, apakah ada pembusukan atau tidak. Tampak ada benda seperti penyakit atau tidak,” katanya.

Demikian juga bila dirasakan dengan tangan. Lengket atau tidak. Bila lengket, kemungkinan besar, daging mengandung bahan pengawet.

“Lumayan susah saat memeriksa bakso karena terbungkus. Juga susah menyiumnya. Apalagi boraks atau bleng sudah akrab di masyarakat, termasuk dalam pembuatan kerupuk,” tandasnya.

Idam menambahkan, selain melakukan operasi daging berpengawet, inspeksinya ke pasar tradisional juga guna kampanye larangan penyembelihan betina produktif.

“Undang-undang sudah melarang pemotongan sapi yang masih melakukan reproduksi secara normal. Aturan sebelumnya, sapi betina boleh disembelih setelah lima kali beranak,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan