ODHA Baru di Rembang Marak dari Keluarga Muda

Rabu, 2 Desember 2015 | 17:05 WIB
Ilustrasi. (Foto: Intisari)

Ilustrasi. (Foto: Intisari)

 

REMBANG, mataairradio.com – Fenomena HIV/AIDS di Kabupaten Rembang membutuhkan perhatian secara serius.

Aktivis HIV/AIDS asal Pati yang mendampingi 172 ODHA di Rembang Ari Subekti mengungkapkan, ODHA baru di daerah ini banyak yang berasal dari kalangan keluarga muda.

Menurutnya, kalangan rumah tangga muda yang terinfeksi HIV, rata-rata berusia 24-25 tahun.

“Mereka diduga tertular HIV sejak 6-7 tahun yang lalu, tetapi baru tahu status terinfeksi setelah menikah, sehingga pasangan itu kini hidup dengan AIDS,” bebernya.

Hingga Rabu (2/12/2015) ini, Ari mencatat, kalangan usia produktif yang terinfeksi HIV atau menderita AIDS di Rembang, cukup banyak.

Selain ibu rumah tangga, mereka ini juga terpantau masih aktif bekerja di sektor swasta, termasuk sebagai sopir, nelayan, dan petani.

Ari yang menginisiasi pembentukan kelompok dukungan sebaya Sasono Suryo di Rembang, menyebut mereka ODHA yang merupakan kalangan keluarga muda tersebar di setidaknya tiga kecamatan; Lasem, Sale, dan Sarang.

“Rumah tangga muda yang kini hidup dengan HIV/AIDS, diduga pernah melakukan hubungan seks semasa remaja atau ketika masih single,” kata ia.

Menurutnya, bisa jadi, kedekatan mereka dengan tempat prostitusi, termasuk prostitusi terselubung, menjadi pemicu perilaku seks bebas.

Ari berharap kepada Pemerintah Kabupaten Rembang agar menggencarkan sosialisasi, terutama menyangkut akses obat.

“Sebab, ada pengidap HIV atau penderita AIDS yang memilih putus obat, gara-gara beranggapan akses obatnya mesti di Pati. Padahal di Rembang, kini sudah bisa,” terangnya.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Rembang Ali Syofii mengakui, fenomena HIV/AIDS di kabupaten ini, sudah sangat serius.

Sejak 2004 sampai 2015 per akhir November kemarin, jumlah pengidap HIV dan penderita AIDS sudah sebanyak 252 orang.

“113 di antaranya bahkan sudah meninggal dunia,” ujarnya.

Soal antisipasi, pihaknya sudah berusaha melakukan sosialisasi mengenai bahaya seks bebas dan berganti-ganti pasangan seks. Sosialisasi ke siswa di sekolah-sekolah juga sudah digencarkan.

“Sentuhan sosialisasi sampai ke tingkat desa pun sudah dilakukan. Jika dinilai kurang, kami akan intensifkan lagi,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan