Nelayan Tidak Siap Larangan Cantrang Berlaku per 1 Januari

Selasa, 27 Desember 2016 | 14:46 WIB
Selasa (27/12/2016) pagi hingga siang, sejumlah pihak dari unsur Pemerintah, aparat keamanan, dan termasuk dari unsur nelayan melakukan pertemuan di Ruang Rapat Bupati Rembang, menyikapi rencana pemberlakuan rencana pelarangan cantrang per 1 Januari 2017. (Foto: Pujianto)

Selasa (27/12/2016) pagi hingga siang, sejumlah pihak dari unsur Pemerintah, aparat keamanan, dan termasuk dari unsur nelayan melakukan pertemuan di Ruang Rapat Bupati Rembang, menyikapi rencana pemberlakuan rencana pelarangan cantrang per 1 Januari 2017. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Nelayan di Kabupaten Rembang menyatakan tidak siap apabila larangan penggunaan alat tangkap jenis cantrang rencana efektif berlaku pada 1 Januari 2017.

Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Rembang Gunadi menjelaskan, ketidaksiapan itu antara lain karena rata-rata nelayan masih belum cukup modal untuk berganti alat tangkap misalnya ke gillnet atau purseseine.

“Selain itu, hasil pertemuan di Bogor dengan Menko Kemaritiman pada 29 November 2016 yang mengemuka bahwa cantrang tidak ramah bagi lingkungan, belum ada kajian ekologis secara komprehensif, sampai saat sekarang,” katanya.

Ketua Asosiasi Nelayan Kabupaten Rembang Suyoto juga mengatakan, komitmen dari Kementerian Kelautan dan Perikanan yang akan fasilitasi permodalan nelayan dengan Pelindo, masih belum disentuh, setidaknya sampai saat ini.

“Pemerintah semestinya pun mempertimbangkan kecakapan nelayan ketika berganti alat tangkap dari cantrang. Ganti gillnet, tidak mudah. Kami belum siap jika Permen KP Nomor 2 Tahun 2015 yang di dalamnya melarang cantrang, direncakan efektif berlaku per 1 Januari 2017,” katanya.

Rasno, seorang tokoh nelayan di Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang mengatakan pula bahwa dirinya masih memiliki pinjaman di bank dan pembayarannya mengandalkan hasil tangkapan ikan dari kapal cantrang miliknya.

“Di luar dampak sosial dan ekonomi, jika pun kami harus ganti alat tangkap dari cantrang, maka kapal kami harus kembali dimodifikasi. Untuk modifikasi perlu tukang. Satu kapal butuh waktu lebih dari dua bulan. Kalau kapal cantrang ada 330 kapal, bukankah butuh waktu,” katanya.

Selasa (27/12/2016) pagi hingga siang, sejumlah pihak dari unsur Pemerintah, aparat keamanan, dan termasuk dari unsur nelayan melakukan pertemuan di Ruang Rapat Bupati Rembang, menyikapi rencana pemberlakuan rencana pelarangan cantrang per 1 Januari 2017.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang Suparman mengatakan, selama ini, dari Pemkab sudah tidak kurang dalam berupaya memfasilitasi nelayan cantrang seperti audiensi atau berkirim surat ke Menteri Kelautan dan Perikanan guna penangguhan larangan tersebut.

“Kita juga sudah mohon ada tindakan yang nyata dari Pemerintah sebelum larangan cantrang efektif berlaku. Memang sudah ada bantuan alat tangkap, tetapi baru kepada nelayan cantrang harian. Bantuannya sudah ada di kami. Pembagiaannya menunggu perintah dari Pusat, ” katanya.

Pada tahun ini juga ada bantuan kapal kepada tiga kelompok usaha bersama (KUB), yaitu masing-masing satu untuk KUB di Rembang, Sarang, dan di Tunggulsari Kecamatan Kaliori. Penyalurannya pun menunggu perintah.

“Kalau pun kemudian nelayan tidak siap apabila kebijakan pelarangan cantrang efektif berlaku per 1 Januari 2017, maka hasil dari pernyataan sikap ini akan kami sampaikan dalam bentuk nota dinas kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi serta kepada Gubernur Jateng,” katanya.

Kepala Bidang Perikanan Tangkap pada Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Tengah Fendiawan Tiskiantoro mengungkapkan, pada pertemuan di Surabaya baru-baru ini, sempat mencuat usulan adanya masa relaksasi tiga atau enam bulan setelah 31 Desember 2016.

“Dari yang berkembang di Surabaya, masa relaksasi sebelum penerapan larangan cantrang dilakukan dengan pemanggilan Gubernur provinsi terdampak oleh Menteri KP. Tetapi hingga kini belum ada pertemuan. Karena mepet, mungkin Gubernur akan kirim surat ke Pusat,” katanya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan