Nelayan Rembang Kaget Pembelian Solar Bersubsidi Dibatasi

Senin, 4 Agustus 2014 | 14:24 WIB
Spanduk sosialisasi kebijakan baru dari Pemerintah berupa pembatasan pembelian solar bersubsidi di SPBU   Banyudono Kecamatan Kaliori. (Foto:Pujianto)

Spanduk kebijakan baru dari Pemerintah berupa pembatasan pembelian solar bersubsidi di SPBU Banyudono Kecamatan Kaliori. (Foto:Pujianto)

KALIORI, MataAirRadio.net – Para nelayan di Kabupaten Rembang mengaku kaget dengan kebijakan baru dari Pemerintah berupa pembatasan pembelian solar bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mulai Senin 4 Agustus ini. Mereka hanya boleh membeli solar bersubsidi dalam rentang waktu jam delapan pagi hingga jam enam sore.

Di SPBU Banyudono Kecamatan Kaliori misalnya, ada setidaknya tiga nelayan yang harus menunggu lebih dari sejam untuk mendapatkan solar bersubsidi karena datang terlalu pagi. Pengelola SPBU tidak berani melayaninya sebelum tepat jam delapan. SPBU khawatir dikenai sanksi, jika nekat melayani.

Supervisor SPBU Banyudono Margiono Trisno Busono mengaku lebih banyak melayani kebutuhan solar bersubsidi nelayan dibandingkan untuk angkutan barang. Perbandingannya bisa sampai 70:30 untuk konsumsi nelayan. Dia mengakui banyak nelayan yang kaget akibat kebijakan baru tersebut.

Di wilayah Kaliori dan Kota Rembang, pembatasan pembelian solar bersubsidi terpantau belum terasa berdampak terhadap angkutan barang. Salah satu alasannya, belum banyak armada jenis ini yang melintas, meski aturan telah membolehkan mereka beroperasi.

Menurut Trisno, tingkat konsumsi solar bersubsidi untuk armada angkutan barang masih relatif sepi. Namun seiring masa sisa lebaran, dia masih bisa jual solar bersubsidi hingga lebih dari 10 kiloliter dalam sehari.

Di hari biasa, SPBU yang pernah tersandung kasus penggelapan solar bersubsidi ini, hanya menjual sekitar lima kiloliter solar bersubsidi per hari. Terkait dengan pembatasan pembelian solar bersubsidi ini, petugas SPBU tampak langsung memberikan sosialisasi kebijakan baru tersebut kepada konsumen.

Vice President Corporate Communication Pertamina, Ali Mundakir menegaskan, mulai tanggal 4 Agustus 2014, alokasi solar bersubsidi untuk SPBN atau SPDN akan dipotong sebesar 20 persen. Selanjutnya, penyalurannya diutamakan bagi kapal nelayan di bawah 30 GT.

Asisten Manager Humas Pertamina Operasi Pemasaran Regional IV Jateng dan DIY Robert Marchelino Verieza Dumatubun menyebutkan, sampai dengan 31 Juli 2014 lalu data sementara realisasi konsumsi solar bersubsidi di wilayah Jawa bagian tengah sudah mencapai 1,1 juta kiloliter dari total kuota 2,1 juta kiloliter. Sementara untuk realisasi konsumsi premium bersubsidi mencapai 2,1 juta kiloliter dari kuota sebesar 3,5 juta kiloliter. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan