Nelayan Rembang Gelisah Isu Tebusan Rp70 Juta Per Kapal

Selasa, 4 November 2014 | 18:02 WIB
Ilustrasi kapal nelayan Rembang. (Foto: Pujianto)

Ilustrasi kapal nelayan Rembang. (Foto: Rif)

 
SARANG, mataairradio.com – Nelayan pemilik kapal yang armada dan awaknya ditangkap serta disandera di Masalembu, Sumenep, Jawa Timur, diselimuti rasa gelisah jelang keberangkatan mereka ke pulau tersebut pada Selasa (4/11/2014) malam ini.

Mereka menerima kabar bahwa nilai tebusan yang biasa diminta oleh kelompok nelayan di Masalembu, untuk setiap kapal yang ditangkap berkisar antara Rp50-70 juta. Nilai tebusan tersebut dianggap sangat besar oleh para pemilik kapal.

“Informasi yang kami terima, kalau berkaca pada kasus penangkapan kapal mini purseseine yang ditangkap oleh kelompok nelayan Masalembu belum lama ini, setiap kapal yang minta dilepas, diminta tebusan antara Rp50-70 juta,” ungkap Nurwakhid, Wakil Ketua HNSI Rembang, Selasa (4/11/2014) siang.

Pihaknya tidak mau praktek tebus-menebus terjadi dalam kasus penangkapan dan penyanderaan 15 kapal dari Sarang dan Kragan Kabupaten Rembang di Masalembu pada Minggu (2/11/2014) dini hari sekitar pukul 02.00 WIB.

“Kalau sampai disuruh menebus, jelas akan memberatkan nelayan. Gelisah sudah jelas. Namun ini rombongan tetap berangkat dengan semangat agar kapal mereka bebas berikut awak kapalnya,” tandas Nurwakhid.

Sami’an, salah satu pemilik kapal yang armadanya ditangkap di Masalembu, berharap agar pihak terkait membantu mereka dalam hal membebaskan kapal dan awak yang disandera.

“Saya sudah menggerakkan teman-teman (pemilik kapal) agar iuran satu jutaan untuk biaya transportasi dan konsumsi ke Masalembu dan pulangnya, tetapi tidak dengan tebusan,” katanya.

Dia mengaku sudah menghadapi kerugian lebih dari Rp100 juta, akibat ikan hasil tangkapan yang disebutnya mulai membusuk karena kekurangan es. Dia menyebutkan, saat ditangkap, kapalnya sudah memuat ikan di tujuh petak atau lubang.

“Katakan dari tujuh petak itu setara dengan 700 paket kali Rp200 ribu per basket. Mestinya kita bisa dapat Rp140 juta. Namun karena mulai kurang es dan busuk, ikannya paling laku untuk pakan ternak, mentok Rp35 juta. Kami bisa rugi Rp100 juta kan,” tandasnya.

Sementara itu, Sholechan, pengurus KUD Misoyo Mardi Mino Sarang menambahkan, kasus penangkapan kapal karena anggapan melanggar zona melaut, baru kali ini terjadi pada nelayan Rembang yang melaut di Masalembu.

“Memang sebelumnya ada penangkapan, tetapi nelayan dari kabupaten lain, Pekalongan dan Pati. Tapi alasannya ini lho yang rancu. Nelayan kan bingung, harus ikut aturan yang mana, menteri atau keinginan nelayan lokal. Pemerintah mestinya tegas. Kalau boleh ya boleh, kalau dilarang ya dilarang,” katanya.

Dia menuturkan, berdasarkan informasi yang dihimpun, pembebasan kapal yang ditangkap oleh kelompok nelayan, biasanya berujung tawar-menawar nilai tebusan.

“Ya ujung-ujungnya duit. Ada duit ya dilepas. Dulu waktu saya ngurus kasus serupa di Pulau Bawean, minta tebusannya tinggi, Rp50 juta. Sekitar tahun 2001. Namun setelah kita nego alot, nilai tebusannya diturunkan menjadi kurang dari Rp5 juta,” kata dia yang turut mengurus kapal milik adiknya, Sholeh, KM Manggala Baru.

 

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan