Nelayan Rembang Minta Menteri Susi Turun Tangan Atasi Kasus Masalembu

Tuesday, 4 November 2014 | 17:40 WIB
Pesan pendek yang dikirim Samian kepada Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

Pesan pendek yang dikirim Samian kepada Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti.

 

SARANG, mataairradio.com – Nelayan di Kabupaten Rembang meminta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti turun tangan mengatasi kasus penangkapan dan penyanderaan 15 kapal berikut sekitar 375 awak dari Rembang oleh kelompok nelayan di Masalembu Kabupaten Sumenep Jawa Timur.

15 kapal motor nelayan Rembang ditangkap karena dianggap melanggar zona larangan melaut di kawasan perairan Masalembu. 375 awak kapal disandera tidak boleh melaut dan pas kapal mereka disita. Saat ditangkap Minggu (2/11/2014) dini hari pukul 02.00 WIB, kapal sudah rata-rata tujuh hari melaut.

Kapal-kapal yang berbobot mati 30 gross ton dengan alat tangkap jenis pukat hela atau trawl ini, juga sudah rata-rata memuat tujuh petak hasil tangkapan. Sementara, perbekalan di setiap kapal itu menipis, karena mereka biasa melaut untuk 10 hari, sehingga perbekalan ditaksir habis pada Rabu (5/11/2014).

Kelompok nelayan Masalembu menginginkan agar kapal yang menggunakan alat tangkap jenis trawl tidak memasuki perairan di bawah 30 mil. Padahal, di Peraturan Menteri Kelautan Nomor 2 Tahun 2011, kapal berpukat hela atau trawl boleh menangkap ikan hingga 12 mil.

Permintaan nelayan agar Menteri Susi turun tangan dikirimkan melalui pesan singkat. Sami’an, Pemilik KM Ronggo Warsito dan Loh Jinawe yang kapalnya ditangkap di Masalembu, nekat mengirim SMS ke 0811211365, nomor Menteri Susi yang tersebar di jagat berita nasional.

“Bu Susi yang baik, tolong nelayan Sarang Rembang Jateng dibantu atas kronologi penyanderaan di Madura, Masalembu dengan jumlah ABK 370 orang. Terimakasih,” demikian bunyi SMS Sami’an kepada Menteri Kelautan dan Perikanan.

Sami’an yang juga pengurus KUD Misoyo Mardi Mino Sarang menekankan, campur tangan dari Pemerintah Pusat diperlukan, agar jelas terkait aturan yang diterapkan. Apakah mengikuti ketentuan Permen Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2011, atau menuruti keinginan nelayan Masalembu.

“Apalagi kalau sampai minta tebusan, maka pada lain waktu dan tahun, pasti akan ada penangkapan lagi dan tebusan lagi. Karena aturan yang tidak tegas. Ini juga kami kan nggak jelas dengan oknum-oknum yang melakukan penangkapan kapal nelayan Rembang,” tandasnya.

Dari 15 kapal yang ditangkap, 12 di antaranya milik nelayan di Kecamatan Sarang, sedangkan tiga lainnya milik nelayan di Kecamatan Kragan. 12 kapal dari wilayah Kecamatan Sarang yang ditangkap karena dianggap melanggar zona melaut, masing-masing KM Jaya Indah milik Badrus, KM Rizal Sejati milik Maimun, KM Sido Lancar milik Wartum, serta KM Ronggo Warsito dan KM Loh Jinawe milik Sami’an.

Kemudian, KM Sumber Laut milik Muslikan, KM JP milik H Muslik, KM Putra Sukses Baru milik Asrofi, KM Barokah milik Mudi, KM Manggala Baru milik Sholeh, KM Eka Baru milik Gunawan, dan KM Sri Pahala milik Maman.

Sementara tiga kapal dari wilayah Kecamatan Kragan yang turut disandera di Masalembu masing-masing KM Sri Bunga milik Kusnadi, KM Shofiratul Khoir milik Muklisin, dan KM Shofiratul Rohmah milik Abdul Kholik.

 

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan