Nelayan Rembang Ancam Blokir Pantura Protes Larangan Cantrang

Minggu, 25 Januari 2015 | 17:20 WIB
Pertemuan membahas unjuk rasa menuntut pencabutan larangan penggunaan cantrang oleh nelayan di Balai Pertemuan Paguyuban Nelayan Mina Barokah Dukuh Pabean Desa Tasikagung Kecamatan Rembang, Minggu (25/1/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

Pertemuan membahas unjuk rasa menuntut pencabutan larangan penggunaan cantrang oleh nelayan di Balai Pertemuan Paguyuban Nelayan Mina Barokah Dukuh Pabean Desa Tasikagung Kecamatan Rembang, Minggu (25/1/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

 
REMBANG, mataairradio.com – Sebagian nelayan di Rembang mengancam memblokir Jalur Pantura sebagai bentuk protes atas larangan penggunaan alat tangkap jenis cantrang.

Ancaman ini terungkap dalam forum pertemuan nelayan yang digelar di Pabean Tasikagung, Rembang, Minggu (25/1/2015) pagi.

Mereka menganggap kebijakan pelarangan cantrang dan dogol bisa mematikan ekonomi nelayan.

Apalagi, ikan hasil tangkapan cantrang, menghidupi para buruh bongkar di pelabuhan dan pelelangan serta para bakul ikan.

Mereka menyebut wajar jika kemudian ada aksi protes besar dari komponen nelayan.

Karli, seorang tokoh nelayan dari Desa Tritunggal Kecamatan Rembang menyebut ancaman pemblokiran Jalur Pantura bukan gertak sambal.

Dia tak mau nelayan disepelekan dengan kebijakan yang dianggapnya tidak pro dengan kepentingan mereka.

“Kami berharap Pemerintah peduli dengan aspirasi ini. Kalau perlu blokir sekalian Jalur Pantura agar suara kita didengar,” ungkapnya di pertemuan itu.

Pertemuan nelayan yang digelar di balai pertemuan Paguyuban Nelayan Mina Barokah Dusun Pabean ini menyepakati bahwa aksi unjuk rasa memprotes larangan cantrang bakal tetap digelar pada Rabu 29 Januari mendatang.

Jumlah pengunjuk rasa diperkirakan mencapai 3.000 orang.

Menurut rencana, pengunjuk rasa akan mulai bergerak pukul 08.00 WIB, menuju Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan, sebelum kemudian menuju ke Kantor Bupati dan DPRD Rembang.

Nelayan akan mengajak komponen pemerintahan di kabupaten ini agar satu suara memprotes kebijakan Menteri Susi.

Gunadi, Ketua KUD Saroyo Mino Rembang yang juga sekaligus koordinator aksi unjuk rasa Rabu (29/1/2015) nanti menegaskan dari serangkaian larangan yang dibuat Pemerintah, nelayan bakal fokus pada tuntutan pencabutan larangan cantrang.

“Sebenarnya kami berharap aksi tidak sampai memblokir Pantura. Kami ingin tertib. Intinya kami mau, aturan yang melarang cantrang dicabut. Itu saja,” tegasnya.

Sementara itu dalam sebuah kesempatan wawancara dengan wartawan, Sekretaris Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Rembang Khusaeri justru beda suara dengan nelayan cantrang yang tergabung dalam Front Nelayan Bersatu Rembang.

Pihak HNSI cenderung mendukung kebijakan Pemerintah yang melarang penggunaan cantrang dan dogol. Menurut Khusaeri penggunaan cantrang kurang ramah dengan lingkungan karena menggaruk biota hingga dasar laut.

“Larangan cantrang ini, saya pikir demi kepentingan anak cucu di masa mendatang,” ujarnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan