Nelayan Pantura Kumpul di Rembang Bahas Cantrang

Rabu, 2 Maret 2016 | 18:14 WIB
Pertemuan nelayan dari berbagai daerah di Pantura Jawa Tengah di Balai Desa Tasikagung Kecamatan/Kabupaten Rembang, Rabu (2/3/2016) siang. (Foto: Pujianto)

Pertemuan nelayan dari berbagai daerah di Pantura Jawa Tengah di Balai Desa Tasikagung Kecamatan/Kabupaten Rembang, Rabu (2/3/2016) siang. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – 55 nelayan dari sejumlah kabupaten di tepi Pantai Utara Jawa Tengah berkumpul di Rembang, Rabu (2/3/2016) siang, antara lain guna membahas rencana sikap mereka apabila larangan penggunaan alat tangkap jenis cantrang tetap diterapkan.

Mereka yang antara lain berasal dari Tegal, Brebes, Batang, dan Juwana-Pati, menggelar pertemuan di Balai Desa Tasikagung Kecamatan Rembang, tanpa dihadiri oleh perwakilan dari pihak dinas kelautan dan perikanan setempat, termasuk unsur pemerintah lainnya.

Ketua Front Nelayan Bersatu Rembang Suyoto menampik anggapan bahwa pertemuan tersebut membahas rencana aksi unjuk rasa guna menolak larangan cantrang. Ia menegaskan, pertemuan itu untuk menyamakan persepsi ketika aturan larangan cantrang tetap diberlakukan.

“Sebelumnya kami juga sudah ketemu kawan-kawan ini di Jakarta. Tapi ini kita kumpul lagi untuk menyamakan persepsi guna menghadapi jika saja larangan cantrang tetap berlaku,” terangnya.

Mengenai tidak adanya unsur dinas kelautan dan perikanan yang diundang pada pertemuan itu, Suyoto mengaku sengaja tak mengundang mereka dengan alasan hanya rapat terbatas nelayan. Fokus pertemuan hanya soal konsolidasi dan sinkronisasi gambaran dampak larangan cantrang.

Pada kesempatan itu, Front Nelayan Bersatu Rembang kembali mengungkit hasil uji petik di Tegal yang menyatakan jaring cantrang tidak merusak lingkungan. Ditegaskannya juga bahwa jaring cantrang beda dengan pukat hela atau trawls.

Uji petik itu dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, DPRD Provinsi Jawa Tengah, serta DKP setempat. Jika pun hasil uji petik itu dianggap tidak cukup dan larangan cantrang tetap berlaku, ia meminta agar ada masa transisi pergantian alat tangkap dan kompensasi.

“Kami minta diundur (pemberlakukan kebijakan), tidak ditanggapi. Kami ingin ada kompensasi juga tidak ada respon. Ini Pemerintah maunya apa. Soal Jessica (tersangka pelaku kasus pembunuhan terhadap Wayan Mirna Shalikin, red.) pemerintah rela mengeluarkan anggaran besar,” katanya.

Sebelum pertemuan pada siang itu di Tasikagung, para nelayan cantrang dan pelaku usaha perikanan di Indonesia, sempat terlibat perundingan di DPR RI membahas perkembangan masalah kelautan dan perikanan di negeri ini. Suyoto mengaku ikut menghadiri perundingan itu.

Menurutnya, sebagian kebijakan Menteri Kelautan dan Perikanan banyak merugikan kepentingan nelayan bangsa sendiri. Di satu sisi, Menteri Susi memang berhasil mengusir dan mengebom kapal yang terlibat illegal fishing. Tapi di sisi lain, ia menilai nelayan Indonesia tidak diberi keleluasaan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan