Nelayan Kragan Bergiliran Serahkan Jaring Cotok

Rabu, 5 Februari 2014 | 15:06 WIB
Komandan Pos TNI AL Rembang Letda Hartono menumpuk jaring cotok di utara pos setempat, Rabu ( 5 2) siang. (Foto:Puji)

Komandan Pos TNI AL Rembang Letda Hartono menumpuk jaring cotok di utara pos setempat, Rabu (5/ 2) siang. (Foto:Puji)

KRAGAN, MataAirRadio.net – Sejumlah nelayan di Desa Kragan Kecamatan Kragan secara bergiliran dan sukarela menyerahkan jaring cotoknya kepada aparat TNI Angkatan Laut Rembang. Hingga Rabu (5/2) siang, sudah 43 unit jaring sejenis pukat harimau ini yang diserahkan.

Komandan Pos TNI Angkatan Laut (Posal) Rembang Letda Hartono menjelaskan, penyerahan jaring cotok secara sukarela itu dilakukan usai ada kesepakatan antara aparat dengan nelayan setempat, untuk tidak lagi menggunakan alat tangkap terlarang itu.

Mereka mulai menyadari, penggunaan jaring cotok mengakibatkan rusaknya habitat dan ekosistem laut. Dengan diserahkannya jaring cotok secara sukarela, maka perahu milik nelayan Desa Kragan yang disita aparat pada 28 Januari kemarin, dilepaskan.

Letda Hartono menambahkan, proses penyadaran nelayan agar tidak memakai jaring cotok, akan terus digiatkan. Pada waktu dekat nelayan di Desa Karangharjo dan Karanglincak Kecamatan Kragan juga akan diberikan sosialisasi tentang larangan pengoperasian pukat harimau.

Dia berharap, nelayan di dua desa itu mengikuti jejak langkah nelayan di Desa Kragan. Pihaknya menargetkan hingga akhir tahun ini, daerah Perairan Rembang sudah steril alias bersih dari jaring cotok.

Mengenai pemusnahan jaring cotok yang telah disita aparat, pihak TNI Angkatan Laut terlebih dahulu menunggu koordinasi dengan pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang. Namun pemusnahan akan dilakukan dalam waktu tidak lama lagi.

Hingga Rabu (5/2) ini, berarti sudah ada 78 unit jaring cotok yang diamankan di Pos TNI Angkatan Laut Rembang di Tasikagung. Sebelum yang dari nelayan Desa Kragan, di Posal Rembang sudah ada 35 jaring cotok yang diserahkan oleh nelayan Tritunggal Kecamatan Rembang.

Seperti diketahui, penggunaan jaring cotok melanggar Perda Nomor 14 Tahun 2001. Pengguna atau pemiliknya diancam hukuman paling lama enam bulan penjara dan denda maksimal lima juta rupiah. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan