Nelayan Diminta Waspadai Cuaca Perairan Rembang Memburuk

Selasa, 10 Februari 2015 | 18:51 WIB
Kapal nelayani perairan rembang. (Foto:Rif)

Sejumlah Kapal nelayan perairan rembang. (Foto:Rif)

 
REMBANG, mataairradio.com – Kondisi cuaca di Perairan Utara Jawa diprediksi memburuk pada satu atau dua hari ini.

Pos TNI Angkatan Laut Rembang melansir prakiraan cuaca yang dihimpunnya dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) kepada mataairradio, Selasa (10/2/2015) pagi.

“Hingga Jumat (13/2/2015) nanti ombak berkemungkinan setinggi dua meter, sedangkan angin bertiup dengan kecepatan hingga 17 knot dari arah barat daya,” kata Komandan Pos TNI Angkatan Laut Rembang Lettu Laut Hartono.

Menurutnya, kondisi cuaca semacam itu penting untuk segera diketahui nelayan kecil, terutama yang melaut pada jarak kurang dari 10 mil.

“Kami meminta kepada nelayan pemburu rajungan dan teri, agar tidak memaksakan melaut untuk sementara waktu,” tandasnya.

Sebenarnya, gelombang lebih tinggi diperkirakan terjadi di Perairan Laut Selatan karena bisa mencapai hampir tiga meter.

“Namun karena tidak ada nelayan Rembang yang mengakses perairan itu, maka kerawanannya menjadi tidak perlu dirisaukan,” tegasnya.

Hartono menegaskan, prediksi kondisi cuaca laut dengan gelombang setinggi dua meter dan kecepatan angin 17 knot, mengancam keselamatan nelayan.

“Kami tak merekomendasi aktivitas pelayaran, terutama terhadap nelayan kecil yang berperahu kurang dari 10 grosston,” ujarnya.

Namun jika pun nelayan memaksakan diri melaut, penting bagi mereka agar mewaspadai indikasi angin kencang. Sebab biasanya, angin kencang segera diikuti dengan ombak besar.

“Nelayan kami minta segera meluncur ke daratan atau berlindung segera ke pulau kecil, ketika kondisi cuaca memburuk,” imbuhnya.

Sementara itu, Supar, tokoh nelayan di Desa Pandean Kecamatan Rembang mengakui, cuaca laut sedang kurang bersahabat.

Dia membenarkan sebagian nelayan di daerahnya, berhenti sementara melaut.

Namun ada pula nelayan yang melaut ke perairan dengan gelombang yang terkenal teduh.

“Ada sekitar 16 orang nelayan dari Pandean yang kini melaut di Perairan Tayu Kabupaten Pati,” katanya.

Mereka boro menangkap rajungan dengan alat jenis pejer.

Umumnya, sebagian nelayan mengerti indikasi cuaca buruk, namun diakuinya ada yang dianggap terlalu nekat.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan