Ditangkap, Nelayan Cotok Minta Bantuan Jaring Gondrong

Selasa, 25 Februari 2014 | 14:26 WIB
Tiga orang nelayan saat diamankan di Pos TNI Angkatan Laut Rembang, Selasa (25/2) siang. Mereka tertangkap tangan sedang menangkap ikan dengan jaring cotok. Ketiganya dilepas setelah menekan pernyataan tidak lagi mengulang "nyotok". (Foto: Pujianto)

Tiga orang nelayan saat diamankan di Pos TNI Angkatan Laut Rembang, Selasa (25/2) siang. Mereka tertangkap tangan sedang menangkap ikan dengan jaring cotok. Ketiganya dilepas setelah menekan pernyataan tidak lagi mengulang “nyotok”. (Foto: Pujianto)

SARANG, MataAirRadio.net – Tiga orang nelayan ditangkap oleh aparat pada operasi penggunaan jaring cotok di Perairan Sarang, Selasa (25/2) pagi. Mereka ini berjanji tidak akan lagi menggunakan cotok, namun pemkab diharapkan mengganti alat tangkap itu dengan jaring gondrong.

Tiga nelayan yang ditangkap tim gabungan dari TNI Angkatan Laut, Polisi Perairan, dan Dinas Perhubungan Rembang ini yaitu Kemi, warga Sarangmeduro, serta Masngud dan Kaswari, warga Karangmangu Kecamatan Sarang.

Mereka diamankan ke Pos TNI Angkatan Laut Rembang, berikut jaring cotok dan ikan berbagai jenis berukuran kecil, hasil tangkapan. Kemi berdalih nekat “nyotok”, karena menangkap ikan dengan cara lain misalnya dogol, terbilang sepi.

Selain itu, harga jaring cotok juga jauh lebih murah jika dibandingkan dengan alat dogol atau sejenisnya. Jaring dogol bisa lebih dari satu juta rupiah harganya, sedangkan cotok, Rp300.000 saja sudah dapat.

Kepala Satuan Polisi Perairan Polres Rembang Iptu Roy Irawan mengatakan, penertiban jaring cotok memang menuai kendala di lapangan. Sebagian nelayan menginginkan Pemkab Rembang memberikan solusi nyata, ketika operasi digencarkan.

Jika cotok dilarang, maka Pemkab mestinya memberikan bantuan alat tangkap ramah lingkungan. Sejauh ini, perhatian Pemerintah kepada nelayan kecil, dinilai masih kurang. Mereka juga tidak bisa mengikuti arus pemilik modal yang memiliki kapal berukuran besar.

Komandan Pos TNI Angkatan Laut Rembang Letda Hartono menambahkan, pihaknya akan berupaya membantu akses bantuan alat tangkap ramah lingkungan, salah satunya jaring gondrong. Pihaknya pernah menyampaikannya kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang.

Hanya saja, penggantian cotok dengan jaring gondrong misalnya, akan dilakukan secara bertahap. Salah satunya dengan cara berkelompok 20 orang nelayan. Sebab bagaimana pun, penggunaan jaring cotok, melanggar aturan dan menghancurkan kelestarian laut.

Saat dibawa ke Pos TNI Angkatan Laut Rembang, ketiga nelayan itu didampingi Wakil Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Rembang, Nur Wakhid dan Manajer KUD Misoyo Mardi Mino Sarang Shodiqin Yasir.

Nur Wakhid mengatakan, polemik soal jaring cotok sudah mencuat sejak 1987. Secara khusus, dia mengakui soal cotok kerap kali memicu adu mulut antarnelayan. Dia pun berharap, penertiban jaring cotok diimbangi dengan bantuan alat tangkap ramah lingkungan.

Kepala Seksi Pengelolaan Sumber Daya Perikanan pada Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Rembang Sunyoto mengatakan, pihaknya sedang mengomunikasikan usulan nelayan dengan berbagai pihak. Sebab harga per unit jaring gondrong mencapai lima juta rupiah. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan