Musim Garam Usai, Petani Sewakan Lahan

Friday, 1 December 2017 | 14:30 WIB

Lahan tambak garam di wilayah Dukuh Matalan Desa Purworejo Kecamatan Kaliori masih terendam air, setidaknya hingga Kamis (16/6/2016) pagi. (Foto: mataairradio.com)

 

KALIORI, mataairradio.com – Sebagian petani garam di Kabupaten Rembang memilih menyewakan lahan bekas produksi garam kepada pihak lain. Sebab, sebagian dari mereka kini beralih ke pertanian sawah.

Hendro, petani garam di Desa Dresi Wetan Kecamatan Kaliori mengaku tidak punya banyak waktu jika harus memanfaatkan lahan bekas tambak garam misalnya untuk budidaya bandeng atau udang.

Ia membantah terkendala modal jika mengembangkan bandeng atau udang. Sebab, biayanya untuk budidaya bandeng, hanya sekitar dua juta rupiah. Namun mengurus tambak bandeng, cukup menyita waktu.

“Tahun lalu saya menebar 1.000-an bibit bandeng, tetapi hanya untuk lawuhan (lauk, red.). Itu saja nggak terurus, karena saya fokus ke sawah,” katanya kepada mataairradio.com.

Sementara itu, harga garam di tingkat petani pada Jumat (1/12/2017) ini, mencapai Rp2.900 per kilogram untuk kualitas umum putih, sedangkan untuk garam super hasil produksi terpal mencapai Rp3.000 per kilogram.

Hendro mengaku masih memiliki 20-an ton garam di gudangnya. Sebagian kecil memang dijualnya, tetapi ia menyatakan menanti harga garam naik lagi. Ia berharap harga garam tembus Rp4.000 per kilogram.

Namun ia menyimpan kecemasan, terutama jika garam impor masuk. Menurutnya, garam impor mulai kembali beredar di dalam negeri. Di Kabupaten Rembang, sebagian produsen garam konsumsi mulai mengimpor bahan baku.

Pada kesempatan terpisah, beberapa petani lainnya menyatakan menunggu waktu untuk beralih dari produksi garam ke budidaya bandeng atau udang. Pasalnya untuk budidaya bandeng, air di tambak perlu dikondisikan.

Kadar salinitas perlu ditunggu hingga normal, agar bandeng atau udang yang dibudidayakan tidak malah mati. Para eks petani garan menyebut butuh waktu sekitar satu bulan lagi untuk memulai budidaya bandeng atau udang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan