Musim Baratan, Pelelangan Ikan di Rembang Normal

Rabu, 6 Januari 2016 | 14:06 WIB
Kapal cantrang yang membongkar hasil tangkapan ikannya di Pelabuhan Pendaratan Ikan Tasikagung Rembang, belum lama ini. (Foto: Pujianto)

Kapal cantrang yang membongkar hasil tangkapan ikannya di Pelabuhan Pendaratan Ikan Tasikagung Rembang, belum lama ini. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Kondisi pelelangan ikan di Rembang masih normal, meskipun pada saat ini sedang berlangsung musim baratan yang identik dengan cuaca buruk.

Hal itu karena sebagian nelayan cantrang masih nekat berlayar dengan curi-curi kesempatan saat cuaca sedikit teduh.

Kepala TPI II Tasikagung Ulil Huda, Rabu (6/1/2016) pagi mengungkapkan, jumlah kapal yang sandar dan bongkar masih normal; sekitar 9 kapal jenis cantrang dan 12 kapal mini pursen.

“Kalau ikan, masih didominasi suwangi dan kurisi. Kapal yang sandar ini sempat diuji cuaca buruk di lautan saat berlayar kemarin. Masih normal lah kondisinya (pelelangan),” ujarnya.

Ulil juga mengungkapkan, selama musim baratan yang telah berlangsung lebih dari satu bulan terakhir, belum sekali pun tempat pelelangan ikan di Tasikagung, libur.

“Memang pernah ada libur di tepat tanggal 1 Januari kemarin. Namun hal itu kehendak nelayan,” terangnya.

Sejak tanggal 1-6 Januari ini pula, tingkat omzet pelelangan ikan atau raman di TPI II Tasikagung, relatif stabil di angka Rp250-300 juta per hari.

“Pada 4 Januari kemarin, bahkan sempat tembus Rp306,8 juta,” sebutnya.

Ulil memperkirakan, tingkat raman sebanyak itu belum tentu terjadi di sisa hari di Januari.

Sementara itu, secara raman tahun kemarin, pihak TPI II Tasikagung mencatat adanya lonjakan signifikan ketimbang 2014. Jika raman 2014 hanya Rp52 miliar, maka di tahun 2015 kemarin, mencapai Rp59,4 miliar.

“Artinya per bulan pada tahun kemarin, raman rata-rata Rp4,9 miliar,” imbuhnya.

Namun Ulil mengaku tidak cukup yakin, nilai raman rata-rata itu, akan terjadi di bulan Januari. Ia memprediksi raman bulan ini akan turun ketimbang rata-rata bulanan di tahun kemarin.

“Musim baratan menjadikan nelayan melaut dalam waktu lebih lama, karena banyak tersita waktunya untuk perjalanan,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan