MoU PT Garam Masih Setengah Hati

Senin, 26 Oktober 2015 | 19:20 WIB
Kasmijan, petani Pugar di Dresi Kulon Kecamatan Kaliori saat memanen garam dari media isolator, geomembran, Kamis (16/10/2014) sore. (Foto: Pujianto)

Kasmijan, petani Pugar di Dresi Kulon Kecamatan Kaliori saat memanen garam dari media isolator, geomembran, Kamis (16/10/2014) sore. (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Penandatanganan perjanjian kerjasama atau MoU antara PT Garam (Persero) dengan koperasi garam di Rembang dinilai masih setengah hati.

Pasalnya, nota kesepahaman itu belum memuat kuota dan harga yang diberikan oleh PT Garam kepada koperasi petani.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Program Pugar 2015 Rembang Nurida Andante Islami, Senin (26/10/2015) siang menyebutkan, kuota garam bagi Rembang dihitung secara global bersama Cirebon dan Indramayu-Jawa Barat, serta seluruh wilayah di Jawa Tengah.

“Itu pun, jumlahnya hanya 49.000 ton,” ujarnya kepada mataairradio.

Padahal, menurut Dante, di wilayah Pamekasan-Madura saja, PT Garam memberikan kuota penyerapan sebanyak 146 ribu ton, sehingga MoU penyerapan garam, seolah tidak serius.

Dia juga menyebutkan, PT Garam sempat terjun langsung ke lapangan untuk menyurvei kelayakan garam yang akan diserap.

“Kemungkinan garam produksi petani di wilayah Purworejo Kecamatan Kaliori akan masuk kriteria, karena diproduksi dengan geoisolator. Satu gudang penuh, garam geoisolator (butiran kristal besar dan warna putih, red.) semua,” terangnya.

Sementara garam produksi petani di wilayah Kecamatan Lasem, menurutnya, masih banyak yang disimpan dalam satu gudang, sehingga ada kekhawatiran akan tercampur, antara garam geoisolator dengan garam hasil produksi mejanan tanah biasa.

Dalam hal upaya dari Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang untuk meminta kejelasan kuota penyerapan dari PT Garam, Dante hanya berjanji untuk kembali kontak ke perusahaan.

“Kami pun berharap agar PT Garam memberikan jatah bagi Rembang untuk memasok garam ke Blok Cepu, sebagai rekanan PT Garam yang paling dekat dengan Rembang,” tegasnya.

Mengenai harga, Dante menambahkan, PT Garam sempat dituntut petani agar berkomitmen membeli garam di harga paling tidak Rp750 per kilogram.

PT Garam memberikan sinyal setuju, tetapi MoU soal harga, akan dituangkan di lain perjanjian.

Dia pun mengaku kecewa oleh sikap PT Susanti Megah Surabaya, yang sebelumnya telah mengonfirmasi datang untuk membuat MoU dengan koperasi petani garam di daerah ini.

“Kami kecewa karena sempat konfirm datang, tapi tiba-tiba mundur dengan dalih ada kepentingan lain di Singapura,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan