Mino Sesalkan Kasus Perselisihannya Dipolisikan

Kamis, 15 Oktober 2015 | 18:09 WIB
Ilustrasi (Foto: bodyofart.com)

Ilustrasi (Foto: bodyofart.com)

 
REMBANG, mataairradio.com – Seorang warga yang dikabarkan menjotos tetangganya pada Sabtu malam 10 Oktober lalu hanya gara-gara urusan pilkada di Dukuh Gayam Desa Sumberejo Kecamatan Pamotan, Mino, menyesalkan kasus perselisihannya dengan Sulasdi di sebuah warung kopi di desa itu, dipolisikan.

Kepada mataairradio, Kamis (15/10/2015) pagi, Mino mengaku tidak sekalipun memukul Sulasdi. Tetapi dia mengakui memegang leher Sulasdi dan menarik kerah bajunya, sebelum kemudian dicegah oleh salah seorang anggota polisi yang juga kebetulan “ngopi” di warung setempat.

“Saya tidak memukul, hanya tangan kiri saya memegang lehernya, tangan yang satunya lagi menarik kerahnya. Lalu dicegah pak yudi polisi. Ada saksinya banyak itu,” katanya memberi klarifikasi.

Jika kemudian dikabarkan ada luka pada Sulasdi, Mino mengaku tidak tahu menahu, termasuk apakah luka memar itu direkayasa oleh Sulasdi atau tidak. Mino mengaku tersulut emosinya karena Sulasdi menggelar pertemuan di kampung tanpa izin kepada RT setempat dan kepala desa.

“Itu saya emosi karena Lasdi ngomong keras. Saya terpancing, terus saya raih lehernya. Saya pernah bilang, kalau ada pertemuan ngomong dulu sama desa,” katanya.

Menurut penuturan Mino, Sulasdi dengannya masih ada hubungan kekerabatan. Sulasdi adalah paman Mino. Dia menolak, persoalan perselisihannya dengan Sulasdi disebut berlatarbelakang politik.

“Itu perselisihan biasa. Nggak ada soal dengan politik. Saya nggak ngerti politik,” dalihnya.

Mino yang seorang Ketua Karang Taruna Desa Sumberejo menegaskan, apa yang dilakukannya terhadap pamannya itu, murni faktor emosional sesaat. Dia pun menyebut, lemparan bata yang mewarnai perselisihan itu, bukan untuk melukai Sulasdi, melainkan untuk melampiaskan emosi.

“Nggak ada lemparan batu. Itu meluapkan emosi saja,” katanya yang dikonfirmasi mengenai kabar dilemparkannya bata ke arah Sulasdi tetapi tidak mengenai.

Penyesalannya sampai kasus perselisihannya dipolisikan adalah juga karena persoalan tersebut dianggap sudah selesai. Sebab Sulasdi sempat menerima uang Rp500 ribu dari Mino, sebagai bentuk tanggungjawab.

“Itu Sulasdi sempat meminta Rp1,5 juta. Saya katakan, nggak ada visumnya. Saya bilang juga, sudah itu dipakai berobat dulu. Nanti kalau kurang tak tambahi,” tegasnya.

Atas berkas kasusnya yang ditangani pihak Polsek Pamotan, Mino menyatakan belum sampai dipanggil. Yang dia tahu, sejauh ini baru sampai pada pemanggilan saksi-saksi.

“Siap memberikan keterangan kalau dipanggil. Ya nyesal kenapa harus sampai polisi, lha wong itu sudah selesai sebenarnya,” katanya.

Kapolsek Pamotan AKP Kisworo belum memberi keterangan kepada mataairradio perihal penanganan kasus itu.

Namun dari informasi yang berkembang, kasus tersebut tidak terkait Pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan, tetapi menjurus ke ancaman yang disertai kekerasan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan