Mini Pursen Kragan-Sarang Bisa Kembali Sandar di Tasikagung

Senin, 23 Februari 2015 | 18:10 WIB
Dari kiri, Ketua HNSI Rembang Muslim, Juru Bicara Front Nelayan Bersatu Sumarlan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Suparman, dan Ketua KUD Sarang Heri Wiyono, bersepakat mengakhiri ketegangan antara nelayan cantrang dan pursen, Senin (23/2/2015). (Foto: Pujianto)

Dari kiri, Ketua HNSI Rembang Muslim, Juru Bicara Front Nelayan Bersatu Sumarlan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Suparman, dan Ketua KUD Sarang Heri Wiyono, bersepakat mengakhiri ketegangan antara nelayan cantrang dan pursen, Senin (23/2/2015). (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Seratusan kapal mini pursen milik nelayan dari Kecamatan Kragan dan Sarang bisa kembali sandar di Pelabuhan Perikanan Pantai Tasikagung Rembang.

Hal itu setelah ketegangan mereka dengan paguyuban nelayan kapal cantrang disepakati berakhir, Senin (23/2/2015) pagi.

Sebelumnya, sejak Jumat 20 Februari lalu, seratusan kapal mini pursen dari dua kecamatan tersebut memilih pulang berlabuh dan membongkar ikan hasil tangkapan di daerahnya.

Mereka khawatir terdampak oleh pernyataan salah satu nelayan pursen yang dianggap menyinggung perasaan nelayan cantrang.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Suparman berharap agar kesalahpahaman antara nelayan cantrang dan pursen benar-benar berakhir.

Dia mengakui, omzet pelelangan di TPI Tasikagung menjadi sepi jika pursen tidak sandar. Sebagian bakul pun menjadi harus meluncur jauh ke Sarang.

“Agak terganggu kalau tidak ada pursen yang sandar. Ini hanya sebagian kecil saja. Semoga kesalahpahaman ini benar-benar selesai sebagai pelajaran di masa mendatang,” katanya.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Rembang Muslim meminta maaf atas pernyataan salah satu nelayan mini pursen dari Kragan yang juga pengurus HNSI.

Komentar Sekretaris HNSI Kuseiri yang cenderung mendukung larangan cantrang, menyinggung nelayan pengguna alat tangkap itu.

Menurut Muslim, komentar Kuseiri tersebut tidak mewakili HNSI. Muslim sekaligus menegaskan dukungan kepada nelayan cantrang yang menuntut revisi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015.

Kuseiri sendiri juga sudah meminta maaf atas komentarnya untuk mengindari polemik.

Belasan pengurus paguyuban nelayan cantrang Tasikagung yang hadir di forum diskusi pagi itu bisa menerima permintaan maaf dari HNSI.

“Kami akan menyampaikan hasil kesepakatan itu kepada nelayan di Kragan dan Sarang. Kami berharap agar ketegangan antar-nelayan itu bisa benar-benar cair,” ujar Muslim.

Sementara itu, setelah pertemuan di ruang Unit Pelaksana Teknis Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang di Tasikagung, nelayan cantrang kembali berniat “ngeluruk” ke Jakarta untuk menyuarakan lagi aspirasi revisi peraturan dari Menteri Susi Pudjiastuti.

Rencananya, 26 Februari nanti, mereka akan berunjuk rasa ke Jakarta. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Rembang Suparman berharap agar Menteri mau merevisi Permen KKP Nomor 2 Tahun 2015. Misalnya soal cantrang, bisa saja direvisi agar lingkar jangkauannya dikurangi dari 3.000 meter.

“Demikian juga dengan larangan dogol dan payang, mestinya direvisi dengan menyediakan alternatif alat tangkap. Jika serba mendadak, maka nelayan kecil di wilayah Pantura Rembang akan terancam kelangsungan ekonominya,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan