Merasa Produktivitasnya Dibatasi, Petani Ragu Tanam Tembakau

Monday, 22 February 2016 | 19:01 WIB
Ilustrasi. Logo APTI

Ilustrasi. Logo APTI

 

REMBANG, mataairradio.com – Sebagian petani di Kabupaten Rembang sedang gelisah dan ragu menanam tembakau pada tahun ini.

Hal itu karena mereka menerima informasi bahwa perusahaan mitra hanya akan membeli hasil panen dengan produksi tertentu.

Misalnya, jika petani menanam seperempat hektare tembakau, maka hasil panen yang dibeli hanya sekitar 5 kuintal. Padahal kenyataan di lapangan ada petani yang mampu menghasilkan tembakau 6 bahkan 7 kuintal per seperempat hektare.

Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Rembang Maryono membenarkan adanya kegelisahan itu. Namun pihaknya sudah bicara dengan perusahaan mitra dan ternyata informasi tersebut demi kehati-hatian.

“Sebab, dikhawatirkan ada petani yang nekat menjual tembakau milik petani lain dengan beragam cara,” terangnya kepada reporter mataairradio.

Ia pun membenarkan, ada petani yang produktivitas tembakaunya, di atas rata-rata. Jika per hektare tembakau biasanya keluar 2-2,5 ton, menurut Maryono, ada petani yang menghasilkan 3 ton tembakau dari satu hektare lahan pada musim kemarin.

Pihak APTI Rembang menyebutkan, sosialisasi penanaman tembakau pada 2016, sudah bergulir dua minggu yang lalu. Di antara yang dibahas soal perluasan wilayah.

“Kecamatan Sale yang sebelumnya tidak dikembangi tembakau, akan ada sekitar 60 hektare pada tahun ini,” tandasnya.

Ketua APTI Rembang Maryono mengakui, ada masalah lain yang mencuat di sosialisasi tersebut, yaitu menyangkut luasan lahan yang didaftarkan dengan yang ditanam sesungguhnya.

“Muncul temuan, ada petani yang mendaftar setengah hektare, tapi senyatanya menanam satu hektare,” tegasnya mengungkapkan.

Terhadap yang demikian, APTI bersama perusahaan mitra, dalam hal ini PT Sadana Arifnusa, sepakat meminta petani agar melaporkan setiap terjadi penambahan lahan.

“Jika disetujui perusahaan mitra, maka petani bisa lanjut. Namun jika tidak, maka petani mesti menanam sesuai isi kontrak,” katanya.

Maryono menegaskan, meski luasan lahan hasil pendaftaran petani tembakau mencapai 3.000 hektare, belum ada pembatasan dari Pemerintah.

“Saat rapat koordinasi di provinsi baru-baru ini, petani disilakan saja menanam tembakau tanpa ada batasan luasan,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan