Warga Lasem Menolak Kenaikan Tarif dari KAI

Jumat, 2 Mei 2014 | 15:44 WIB
Ilustrasi (Eks Stasiun Rembang). (Foto:Rif)

Ilustrasi (Eks Stasiun Rembang). (Foto:Rif)

LASEM, MataAirRadio.net – 258 warga Desa Dorokandang Kecamatan Lasem menolak kenaikan tarif yang dikenakan oleh PT Kereta Api Indonesia atau KAI (Persero). Menurut warga, PT KAI tidak berhak menaikkan harga sewa seenaknya, karena dianggap menyalahi ketentuan.

Ratusan warga ini mendiami lahan bekas rel kereta api di Jalur Lasem-Jatirogo. Kebanyakan dari mereka memanfaatkannya untuk warung dan rumah. Warga terakhir kali dipungut uang sewa pada tahun 2008 sebesar Rp17.500 per tahun.

Namun belakangan PT KAI akan memberlakukan tarif baru untuk warga yakni Rp13.500 per meter persegi lahan. Perwakilan warga Desa Dorokandang Edy Heryanto menyatakan menolak segala bentuk pengenaan tarif sewa terhadap lahan bekas rel kereta api.

Menurutnya, pengenaan tarif sewa itu menyalahi peruntukan yang diberikan Negara kepada PT KAI. Perusahaan yang dulu bernama PJKA ini, hanya diberikan hak mengelola lahan Negara untuk kepentingan perkeretaapian. Sementara saat ini, fungsi rel sudah tidak ada.

Warga bersama PT Kereta Api Indonesia sebenarnya sudah saling bertemu membicarakan persoalan pengenaan sewa lahan bekas rel pada Kamis (1/5) kemarin. Namun pertemuan ini berujung buntu, karena warga tetap mengotot menolak tarif tersebut.

Jumat (2/5) ini, warga mempertimbangkan untuk melakukan audiensi langsung ke Jakarta, untuk menemui pihak Direksi PT KAI, Menteri Badan Usaha Milik Negara, dan pihak lain yang dinilai lebih memiliki kapasitas.

Sementara itu, Pejabat Humas PT KAI Daerah Operasi IV Semarang Eko Budiyanto mengatakan, mengenai pengenaan tarif atas pemakaian lahan aset perusahaan, itu sudah sesuai ketentuan.

Soal penurunan tarif sewa, menurutnya, masih mungkin berubah turun, selagi ada pembicaraan secara langsung di Kantor KAI Daops IV di Semarang. Menurutnya, tidak perlu ada yang mengotot terkait persoalan ini, daripada larinya ke urusan Pengadilan.

Samsudin, warga Desa Dorokandang lainnya mengaku mendiami rumah di pinggir Jalur Pantura di depan Terminal Lasem selama 30 tahun lebih, bersama seorang isteri dan lima orang anak.

Dia mengaku, terakhir kali membayar sewa pada tahun 2008 sebesar Rp17.500 per tahun. Setelah itu tidak ditarik lagi oleh petugas PT KAI. Luas bangunan rumahnya 81 meter persegi. Jika memakai tarif baru, maka nilai sewanya menjadi lebih dari satu juta rupiah per tahun. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan