Menanti Harga Tinggi, Petani Tahan Jual Garam

Senin, 25 Juli 2016 | 14:24 WIB
Persediaan garam di gudang milik Rasmani, petani di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori. (Foto: Mukhammad Fadlil)

Persediaan garam di gudang milik Rasmani, petani di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Petani garam rakyat di Kabupaten Rembang beramai-ramai menahan penjualan komoditas hasil produksi tahun lalu karena tingkat harganya dianggap belum memadai.

Sanyoto, salah seorang petani garam di Desa Purworejo Kecamatan Kaliori mengaku menahan stok sekitar 50 ton garam hasil produksi tahun 2015 di gudang miliknya.

Ia juga mengaku sengaja menahan menjualnya karena menanti harga tinggi garam, seiring dengan musim kemarau basah yang diharapkan bisa mengerek tingkat harga.

“Sejak sebelum Puasa sampai sekarang, saya belum sekali pun mengeluarkan garam dari gudang untuk dijual. Masih menanti harga tinggi. Kini, kabarnya harga hanya Rp400-an,” ujarnya.

Namun di balik penantiannya, Sanyoto berharap agar Pemerintah berpihak pada produksi garam rakyat dengan tidak sembarangan membuka keran impor garam.

“Saya pikir, stok garam rakyat yang kini ada di gudang-gudang petani, cukup untuk memenuhi kebutuhan pasokan. Pemerintah agar tak mudah buka keran impor,” harapnya.

Nawawi, petani garam lainnya di desa setempat menambahkan, tingkat harga garam pada saat ini, terbilang naik turun, menyesuaikan kondisi cuaca, hujan atau tidak hujan.

“Kalau hujan, harga garam naik, tetapi sebaliknya, ketika tidak hujan, harga turun lagi. Fluktuasi seperti ini sudah terjadi sejak Puasa kemarin,” ujarnya.

Ia menyebutkan, harga garam pada saat sekarang, untuk kualitas pertama hasil geoisolator Rp600 per kilogram, sedangkan kualitas pertama garam dari mejanan biasa Rp500 per kilogram.

“Kalau harga garam kualitas kedua dari mejanan biasa Rp450 dan yang kualitas umum yang warna garamnya agak kekuningan itu Rp400 per kilogram,” katanya.

Jika mengacu tingkat harga yang pernah didapat petani garam pada saat musim kemarau basah tahun 2010, maka menurutnya, harga yang saat ini, terbilang rendah.

“Kemarau basah enam tahun lalu, harga garam mencapai Rp1.200 per kilogram atau rata-rata Rp1.000 per kilogram. Jadi harga yang sekarang masih rendah,” tegasnya.

Sementara itu, mengenai potensi masuknya garam impor, Nawawi mengatakan Pemerintah perlu mengendalikannya agar industri garam rakyat tidak merugi.

“Kalau nggak ada produksi sama sekali garam pada tahun ini, memang bisa saja ada impor. Kalau garam lokal, saat ini cukup untuk memenuhi kebutuhan industri perikanan, tetapi kalau untuk kebutuhan pabrik, mungkin nggak cukup,” ujarnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan