Membeludak, Pasien DBD Dirawat di Ruang Tunggu RSUD

Kamis, 28 Januari 2016 | 18:41 WIB
Pasien penderita demam berdarah dengue atau DBD yang dirawat di RSUD dr R Soetrasno Rembang membeludak, sehingga sebagian pasien terpaksa dirawat di atas tandu lipat di salah satu ruang tunggu pengunjung di rumah sakit tersebut, Kamis (28/1/2016). (Foto: Pujianto)

Pasien penderita demam berdarah dengue atau DBD yang dirawat di RSUD dr R Soetrasno Rembang membeludak, sehingga sebagian pasien terpaksa dirawat di atas tandu lipat di salah satu ruang tunggu pengunjung di rumah sakit tersebut, Kamis (28/1/2016). (Foto: Pujianto)

 

REMBANG, mataairradio.com – Pasien penderita demam berdarah dengue atau DBD yang dirawat di RSUD dr R Soetrasno Rembang membeludak.

Tempat tidur pun penuh dan pasien terpaksa dirawat di atas tandu lipat di salah satu ruang tunggu pengunjung di rumah sakit tersebut.

Berdasarkan pantauan reporter mataairradio, Kamis (28/1/2016) pagi, 30 tempat tidur di ruang perawatan anak, Flamboyan, sudah penuh.

23 pasien di antaranya adalah penderita DBD. Menurut catatan kepala ruang tersebut, ada 15 antrean pasien yang kini masih dirawat di UGD dan di ruang tunggu.

Suyanti, ibu dari pasien DBD yang ditemui di ruang tunggu Ruangan Ortopedi Paviliun Kartini RSUD Rembang mengaku terpaksa menerima anaknya dirawat hanya di atas tandu lipat.

“Nggak apa-apa. Asalkan, anak saya segera ditangani,” katanya.

Warga Pandangan Kulon Kecamatan Kragan ini berharap segera ada ruang kosong, sehingga anaknya bisa dipindahkan ke kamar atau tempat tidur perawatan yang lebih nyaman.

“Ya harapannya bisa pindah dari sini (tandu lipat). Tadi sore (27/1/2016) masuknya. Kata Pak Bambang (dokter anak) kena DB,” katanya.

Kepala Bidang Pengembangan dan Informasi RSUD dr R Soetrasno Rembang Giri Saputro menyebutkan, ada 2 ruang tunggu yang digunakan untuk menampung perawatan sementara pasien.

“Selain di ruang tunggu Ruangan Ortopedi yang kini telah digunakan, ruang tunggu ICU juga akan dipakai,” terangnya.

Namun ruang tunggu pasien ICU masih dalam pembenahan agar layak guna, meski darurat. Menurutnya, ada satu ruang lagi yaitu Ruang Radiologi yang disiapkan sebagai antisipasi terhadap makin membeludaknya pasien, terutama DBD.

“Kami memang meminjam tandu lipat dari luar RSUD. Ada 19 tandu lipat yang dipinjam dari BPBD dan Kantor Kesbangpolinmas,” katanya.

Dengan bantuan itu, maka ada 31 tandu lipat, termasuk 12 tandu lipat dari internal RSUD, yang sebagian besar sudah dipakai untuk merawat pasien secara darurat.

“Penggunaan tandu lipat ini setelah 258 tempat tidur di RSUD, dipenuhi pasien,” tambahnya.

Sementara itu, meski sedang berkutat dengan pembeludakan jumlah pasien yang mesti dirawat, Kamis (28/1/2016) pagi, rumah sakit plat merah ini masih menerima kunjungan studi banding.

Kali ini dari RSUD Sukabumi, Jawa Barat. Sebagaimana RSUD sebelumnya, mereka ini juga datang untuk belajar tentang cara meraih akreditasi paripurna RSUD.

Menurut Giri, kunjungan mereka tidak sampai mengganggu penanganan pasien, termasuk penderita DBD di kalangan anak-anak. Ia menyebutkan, dokter anak sudah ada 3, sehingga jika Dokter Maya ditarik sebagai presentator, bisa dilapis dokter lain.

“Lagi pula, presentasi ini setelah dokter visit pasien,” pungkasnya.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan