Mbah Mik Sang Kyai Tegas Berpulang

Senin, 16 Juni 2014 | 15:59 WIB
Jenazah almarhum dimakamkan di permakaman kompleks Masjid Besar Lasem, Senin (16/6) sekitar jam setengah sebelas siang. (Foto:Pujianto)

Jenazah almarhum KH Abdul Hamid Baidlowi dimakamkan di permakaman kompleks Masjid Besar Lasem, Senin (16/6) sekitar jam setengah sebelas siang. (Foto:Pujianto)

LASEM, MataAirRadio.net – Ulama sepuh sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Al Wahdah Desa Sumbergirang Kecamatan Lasem KH Abdul Hamid Baidlowi, meninggal dunia, Minggu (15/6) jam tiga sore kemarin. Mbah Mik, demikian sapaan akrabnya, wafat di Keluarga Sehat Hospital (KSH) Pati pada usia 69 tahun.

Senin (16/6) sekitar jam setengah sebelas siang, jenazah almarhum dimakamkan di permakaman kompleks Masjid Besar Lasem. Mbah Mik dikebumikan di dekat makam ayahnya, KH Baidlowi, atau di areal Makam Mbah Sambu Lasem.

Arif Dimyati salah satu cucu almarhum menyebut Mbah Mik sebagai pribadi yang tegas dan konsisten memegang prinsip. Pesan dari Mbah Mik yang paling diugemi adalah menghargai pluralitas, tetapi menentang pluralisme. Pluralitas diartikan menghargai perbedaan keyakinan, sedangkan pluralisme diartikan sebagai satu paham yang mengajarkan semua agama sama, dan kebenaran setiap agama relatif.

Dalam sebuah kesempatan diskusi yang diikutinya, Mbah Mik mengatakan ada banyak cara yang melunturkan nilai keislaman sesuai ajaran Nabi. Mbah Mik salah satunya menentang keras dijadikannya adat sebagai ajaran. Sebab, adat adalah budaya bukan ajaran.

Di mata cucunya, Mbah Mik merupakan seorang organisator dan orator ulung. Arif juga menyebut kakeknya sebagai “singa podium”, tidak hanya di Rembang tetapi juga di luar daerah. Mbah Mik pun dikenal sebagai seorang ahli hadist.

Pada setiap kali pengajian, Mbah Mik dinilai mampu membahasakan isi hadist secara lebih sederhana, sehingga mudah dipahami oleh mereka yang mengikutinya. Mbah Mik pun dijuluki penceramah yang handal.

Arif sendiri mengaku sempat terlibat diskusi untuk terakhir kali dengan Kyai Hamid Baidlowi pada bulan Oktober 2013. Saat itu, beliau juga sempat membahas pengesahan Konghucu sebagai agama oleh Pemerintah. Namun Mbah Mik tak membatasi hubungan dengan non-muslim.

Sementara itu, pemberangkatan Mbah Mik ke peristirahatan terakhir diikuti oleh ribuan orang, baik santri, sahabat, maupun sejumlah tokoh penting seperti KH Ahmad Mustofa Bisri.

Mbah Mik meninggalkan seorang istri, Nyai Hajah Jamilah Hamid Baidlowi, dua orang putra, dan dua orang putri. Yakni Nyai Nadlirah yang kini tinggal di Magelang, kemudian Gus Ahfas Faishol dan Gus Zakki Mubarok yang tinggal di Pesantren Al Wahdah, serta Ning Jazilah yang tinggal di Ploso Kediri. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan