Mayat Hakim Ditemukan Tersangkut Rumpun Bambu

Friday, 10 January 2014 | 16:25 WIB
Warga menyaksikan jenazah Achmad Jalaludin Hakim yang sudah dibaringkan di rumah duka, Dusun Tuyuhan Kidul Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur, Jumat ( 10 1) pagi.

Warga menyaksikan jenazah Achmad Jalaludin Hakim yang sudah dibaringkan di rumah duka, Dusun Tuyuhan Kidul Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur, Jumat ( 10 1) pagi.

PANCUR, MataAirRadio.net – Achmad Jalaludin Hakim, bocah tujuh tahun yang tenggelam terseret arus Sungai Tuyuhan pada Kamis (9/1) kemarin, akhirnya ditemukan tersangkut pada rumpun bambu dalam kondisi sudah meninggal dunia pada Jumat (10/1) sekitar jam sembilan pagi.

Korban ditemukan oleh warga di dekat permakaman Dusun Tuyuhan Lor, satu kilometer dari lokasi awal tenggelam. Warga yang melihatnya segera berteriak kepada tim SAR atau regu penolong untuk dilakukan evakuasi. Jenazah Hakim selanjutnya dibawa ke rumah duka di Dusun Tuyuhan Kidul Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur untuk divisum oleh tim dokter dan diidentifikasi oleh tim dari Polres Rembang.

Kapolsek Pancur AKP Suwardi menuturkan, sebelum tenggelam, Hakim bermaksud mandi bersama temannya. Namun temannya itu urung mandi, sementara korban bergegas melepas semua bajunya. Belum sempat mandi, Hakim terpeleset dan terseret arus sungai. Korban sempat memberikan isyarat minta tolong begitu tenggelam, namun temannya tak kuasa menyelamatkan.

Suasana rumah duka di wilayah RT 9 RW 5 Dusun Tuyuhan Kidul, seketika ramai begitu jenazah Hakim tiba. Sulastri, ibu kandungnya berteriak histeris dan segera ditenangkan oleh beberapa kerabat dan tetangga. Achmad Jalaludin Hakim adalah anak pertama dari Sulastri dan suaminya, Muhtadin. Sulastri baru melahirkan anak keduanya, Talita Husna pada 30 Desember 2013.

Tampak para guru dari Madrasah Ibtidaiyah Tuyuhan datang melayat ke rumah duka. Achmad Jalaludin Hakim tercatat sebagai satu dari 18 siswa di Kelas I madrasah tersebut. Faiqotus Zahro, Wali Kelas I mengaku sedang tidak berada di sekolah ketika peristiwa itu terjadi.

Namun pihak madrasah memastikan, peristiwa tenggelamnya Hakim terjadi setelah jam setengah sebelas siang atau sepulang sekolah, Kamis (9/1) kemarin. Sebab, jam sepuluh lebih seperempat, sejumlah guru masih melihat Hakim masih di depan kelas. Zahro menuturkan, sehari-hari Hakim adalah sosok bocah yang aktif dan termasuk pandai.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Rembang Harjono menyebutkan, pencarian terhadap korban melibatkan berbagai unsur regu penolong dari TNI Angkatan Laut, Polisi Perairan, Ubaloka, Tagana, PMI, dan masyarakat setempat.

Tim melakukan pencarian sejak korban dilaporkan tenggelam jam sebelas siang hingga jam setengah enam petang, Kamis (9/1) kemarin. Pencarian dihentikan karena arus sungai makin deras dan baru dilanjutkan Jumat (10/1) pagi hingga kemudian korban ditemukan. Pihaknya berharap kepada masyarakat agar waspada dan meningkatkan pengawasan terhadap anak-anaknya. (Pujianto)




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan