Masyarakat Kemadu Kurang Gereget Geluti Batik Khas Daerahnya

Sabtu, 13 Februari 2016 | 14:00 WIB
Safuandi saat menunjukkan batik tulis khas kemadu produksinya di kediamannya, Sabtu (13/2/2016) pagi. (Foto: Mukhammad Fadlil)

Safuandi saat menunjukkan batik tulis khas kemadu produksinya di kediamannya, Sabtu (13/2/2016) pagi. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

SULANG, mataairradio.com – Masyarakat Desa Kemadu Kecamatan Sulang masih kurang gereget menggeluti industri kerajinan batik tulis khas daerah mereka.

Padahal tokoh perajin batik tulis kemadu sudah berkali-kali menggalakkan kampanye produksi komoditas yang sedang naik daun ini.

Muhammad Safuandi, tokoh perajin batik tulis kemadu menyebutkan, sejauh ini tinggal 4 orang yang berminat untuk pelaku industri kerajinan tersebut.

Tahun 2011, sempat ada 25 orang yang dilatih oleh tim dari Pemkab Rembang. Sampai Oktober 2013 lalu, masih ada 7 orang yang menekuni usaha itu.

Tingkat kesulitan proses pembuatan batik tulis kemadu, diduga menjadi salah penyebab kurangnya minat masyarakat menjadi perajin.

“Proses pewarnaan batik tulis kemadu memang perlu ketelitian. Jika ada takaran bahan yang tidak sesuai, proses pembatikan bisa gagal dan tidak bisa diperbaiki. Mungkin mereka terlalu takut rugi,” ujarnya.

Safuandi mengakui, batik tulis kemadu masih belum banyak diminati pasar, meski merupakan perpaduan dua motif; latohan lasem dan kawung yogyakarta.

“Pemasaran batik kami masih belum banyak bergerak. Konsumen cenderung memilih membeli batik tulis lasem yang sudah lebih dulu terkenal,” tandasnya.

Ia mengakui pula, pemasaran batik tulis kemadu masih terbatas lewat pertemanan dan kerabat. Namun saat ini, pihaknya mulai merambah dunia maya.

“Masih konvensional. Lewat kenalan, teman, dan kerabat saja (pemasarannya). Tapi ini mulai merambah (pemasaran via) online,” katanya.

Dalam alam sebulan, Safuandi mampu memproduksi 50-100 lembar kain batik tulis kemadu, tapi jumlah itu belum termasuk pesanan khusus.

“Saat ini saya dibantu oleh 7 orang pembatik yang terdiri atas 4 orang warga Kemadu, dan 3 orang dari luar daerah,” tambahnya.

Batik tulis mengusung warna hijau sebagai unggulan karena terinspirasi oleh sejarah yang melekat pada desa tersebut. Mereka merintis batik tulis kemadu pada 2011 silam.

Safuandi mengisahkan, desa yang kini berpenduduk lebih dari 2.500 orang ini, dulunya dipenuhi oleh pohon jati dan perdu jenis kemadu.

Kini perdu kemadu yang cukup teduh dan hijau telah banyak yang musnah. Namun warna dan nuansa hijaunya ingin dilestarikan oleh sebagian warga melalui batik tulis.

Menurut dia, warna hijau cenderung religius, islami, segar, dan tidak mencolok. Bagi sebagian orang, hijau berfilosofi warna surga.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan