Martil dan Belati Masuk Stadion, PSIM Mesti Disanksi

Rabu, 8 April 2015 | 17:54 WIB
Pemain PSIR Rembang yang menjadi korban kebrutalan suporter PSIM Yogyakarta pada laga uji coba Divisi Utama 2015 di Stadion. (Foto: krjogja.com)

Salah satu pemain PSIR Rembang yang menjadi korban kebrutalan suporter PSIM Yogyakarta pada laga uji coba Divisi Utama 2015 di Stadion Mandala Krida Yogyakarta, Selasa (7/2/2015) sore. (Foto: krjogja.com)

 
REMBANG, mataairradio.com – Asisten Pelatih PSIR Rudi Sukma membeberkan kronologi penyerangan pemain, ofisial, dan pelatih Laskar Dampo Awang oleh oknum suporter dan panitia pelaksana (Panpel) PSIM Yogyakarta. Aroma penyerangan sudah tercium saat babak pertama baru berjalan paruh waktu.

Diduga kesal karena PSIM saat itu tertinggal 2-0, oknum penonton tuan rumah, menghujani bench pemain PSIR sedang lemparan benda keras. Salah satu ofisial bagian perlengkapan PSIR juga dilempar dengan balok kayu sepanjang satu meter oleh oknum penonton, beberapa menit setelahnya.

Rudi yang kemudian berkoordinasi dengan pengurus dan panpel PSIM Yogyakarta agar menyudahi saja laga, tidak digubris. Pihak PSIM mengaku tidak bisa menjamin keselamatan tim PSIR jika tidak mau melanjutkan pertandingan. Laga pun kembali berjalan.

“Awalnya, kita main hingga pertengahan babak pertama, asyik-asyik saja. Tetapi setelah kita unggul 2-0, kita jadi diteror. Mulai ada lemparan-lemparan ke lapangan. Petugas perlengkapan kita dilempar balok kayu dari atas tribun. Kita minta dihentikan, tetapi PSIM nggak berani jamin keamanan,” katanya

Usai turun minum, pertandingan sempat berlangsung kondusif hingga paruh babak kedua. Apalagi kedudukan pada saat itu, imbang 2-2. Namun Hermawan Eko yang masuk menggantikan Koko Hartanto, mampu mencetak gol, sehingga PSIR kembali unggul 3-2 atas PSIM.

Diduga kesal lagi, penonton kembali berulah. Lapangan dihujani lemparan, terutama mengarah ke bangku pemain PSIR. Lagi-lagi, pertandingan terhenti untuk beberapa menit. Laga dilanjutkan setelah penonton lumayan tenang. Namun begitu laga usai, saat itulah penyerangan terjadi.

Mulanya sejumlah pemain PSIR menyukuri hasil laga itu. Penonton tuan rumah yang tak terima, kemudian masuk ke lapangan dan langsung menyerang pemain, ofisial, dan pelatih PSIR. Aparat yang mengevakuasi tim PSIR tak kuasa melawan beringas penonton. Apalagi oknum panpel turut memukuli.

“Saat turun minum kita minta ke panpel agar laga kondusif. Ketegangan agak mereda ketika skor menjadi 2-2. Tetapi pada menit ke-74, Hermawan yang mengganti Koko, mencetak gol, jadi 3-2. Nah begitu laga usai, pemain kita sujud syukur, saat itu penonton masuk ke lapangan. Kami diserang,” katanya.

Rudi menuding panpel PSIM ceroboh bahkan cenderung sengaja membiarkan kericuhan terjadi. Apalagi faktanya, sejumlah penonton kedapatan membawa balok kayu, palu atau martil, dan belati. Aparat di Yogyakarta mestinya mengusut kasus penyerangan yang mengakibatkan sejumlah pemain PSIR luka-luka.

“Insiden yang kami alami seperti sudah terencana atau paling tidak cenderung dibiarkan lah. Balok kayu, martil, dan belati kok bisa masuk lapangan. Kita dievakuasi oleh aparat keamanan, polisinya juga kena lemparan batu. Saya minta tolong panpel, malah saya dipukuli juga. Ini mesti ada sanksi,” tegasnya.

Manajer PSIR Siswanto menuntut kepada pihak PSIM agar bertanggung jawab atas kejadian penyerangan tersebut. Tidak hanya ganti rugi, tetapi PSIR juga menghendaki adanya proses hukum. Pihaknya belum berpikir berdamai, meski manajemen PSIM berencana kunjung ke Rembang dalam waktu dekat.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan