Pedagang Lontong Tuyuhan Disandera Kenaikan Harga Ayam

Jumat, 11 Juli 2014 | 17:36 WIB
Gapura Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur. (Foto:Pujianto)

Gapura Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur. (Foto:Pujianto)

PANCUR, MataAirRadio.net – Para pedagang lontong di sentra kuliner lontong tuyuhan di Desa Tuyuhan Kecamatan Pancur disandera oleh kenaikan harga ayam di pasaran. Mereka mengaku tak bisa serta merta menaikkan harga per porsi dagangannya, padahal kenaikan harga ayam naik Rp10.000-Rp15.000 per ekor.

Rozikin, seorang pedagang lontong tuyuhan asal Dusun Tuyuhan Kidul Desa Tuyuhan mengaku serba salah jika ingin menaikkan harga per porsi lontong, seiring kenaikan harga ayam per ekor. Dia juga mengaku khawatir pelanggan bakal lari, jika harga dinaikkan.

Umumnya, pedagang lontong mengeluhkan kenaikan harga ayam menjadi Rp45.000 per ekor. Mereka merasa tersandera, karena tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah dan berharap harga ayam akan kembali normal.

Amal Abidah, seorang istri dari pedagang lontong tuyuhan menyebutkan, dalam sehari, rata-rata memotong 7-8 ekor ayam. Namun jumlah itu saat hari-hari biasa. Sementara ketika bulan Ramadan, biasanya hanya memotong empat hingga lima ekor saja dalam sehari.

Menurutnya, pedagang lontong tuyuhan kebanyakan, baru berangkat berjualan selepas asar dan sudah pulang ketika waktu salah tarawih tiba. Karena jam bukanya tidak lama, maka mereka tidak memotong banyak ayam. Apalagi, permintaan lontong juga tidak seramai hari biasa.

Amal membenarkan, harga per ekor ayam naik menjadi Rp45.000 dari sebelumnya yang hanya Rp30.000, bahkan Rp28.000. Kenaikan harga ayam semakin membebani pedagang karena harga sembako pun turut naik pada bulan Puasa ini.

Muhtarom, Kepala Urusan Kesejahteraan Rakyat Desa Tuyuhan menambahkan, sejak dibangun tahun 2000, sentra kuliner lontong tuyuhan semakin ramai oleh pengunjung, tak terkecuali bulan Puasa. Namun umumnya, pembeli baru datang pada sore hari, misalnya sekadar membeli opor ayamnya saja.

Dia menyebutkan, di kampungnya, ada 16 orang pedagang yang berjualan di sentra lontong tuyuhan. Selebihnya, ada satu pedagang di wilayah Pereng, lalu tiga orang di Alun-alun Rembang, dan dua orang di bilangan TPI Tasikagung. Lontong dan opor ayam khas Tuyuhan memiliki rasa yang khas karena gurih dan pedas, serta santan yang kental. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan