Lima Gunung pada 40 Hari Wafat Istri Gus Mus

Senin, 8 Agustus 2016 | 23:34 WIB
Komunitas Lima Gunung menyuguhkan persembahan pada peringatan 40 hari wafat Nyai Hajah Siti Fatmah, istri KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Senin (8/8/2016) malam.

Komunitas Lima Gunung menyuguhkan persembahan pada peringatan 40 hari wafat Nyai Hajah Siti Fatmah, istri KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Senin (8/8/2016) malam.

 

REMBANG, mataairradio.com – Komunitas Lima Gunung menyuguhkan persembahan pada peringatan 40 hari wafat Nyai Hajah Siti Fatmah, istri KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), Senin (8/8/2016) malam.

Belasan seniman laki-laki dan perempuan dari komunitas tersebut menampilkan tarian, puisi, dan melukis, secara kolaborasi dengan berbalutan busana berwarna putih dan diiring nyanyian, pujian bagi Tuhan yang maha Kuasa.

Persembahan diawali dengan pembacaan puisi dan melukis empat lukisan pada kanvas. Dua lukisan masing-masing berhias wajah Gus Mus dan Nyai Hajah Siti Fatmah dan dua lukisan lain di antaranya bertahta lafal Allah.

Di sela-selanya, Lima Gunung mempersilakan Gus Mus naik ke tangga berbalut kain berwarna putih, melambangkan kehidupan, yang kemudian dirangkai dengan tarian kolaborasi.

Pada persembahan tersebut, Gus Mus yang dikenal juga sebagai seniman, turut melukis pada kanvas warna putih. Lukisan bertuliskan lafal arab “Allahummarham” yang berarti doa untuk cinta kasih.

Di ujung suguhan, empat lukisan karya seniman Lima Gunung diserahkan kepada Gus Mus sebagai tanda cinta, sedangkan lukisan Gus Mus juga diserahkan kepada pihak Lima Gunung sebagai wujud cinta kasih. Setelah bertukar lukisan, suguhan malam itu pun selesai.

“Saya, anak, menantu, dan cucu saya mengucapkan terima kasih atas tarian, puisi, dan lukisan dari Komunitas Lima Gunung. Saya tidak mampu membalas. Semoga Allah membalasnya dengan balasannya sendiri,” kata Gus Mus.

Sutanto Mendut yang merupakan sesepuh Komunitas Lima Gunung mengaku kenal pertama kali dengan Gus Mus bukan sebagai seorang ulama, melainkan seorang yang berpuisi.

“35 tahun yang lalu saya kenal Gus Mus sebagai seorang yang berpuisi. Kata keadilan yang saya ingat betul saat pertama kali bertemu. Gus Mus memperluas makna keadilan,” katanya.

Menurutnya, Gus Mus merupakan wakil dari kehalusan hati dan tempat bagi komunitasnya ketika lelah berpikir dan menafsir, sehingga saat istri berpulang ke hadirat Tuhan, Komunitas Lima Gunung pun ikut kehilangan.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan