Lespem Pertanyakan Kejari Belum Sentuh Aktor Lain PPID

Senin, 17 Februari 2014 | 15:26 WIB
Pengacara Abdul Muttaqin, Darmawan Budiharto saat memberikan keterangan pers seputar testimoni tertulis dari kliennya terkait kasus PPID 2011, Rabu (12/2). (Foto: Pujianto)

Pengacara Abdul Muttaqin, Darmawan Budiharto saat memberikan keterangan pers seputar testimoni tertulis dari kliennya terkait kasus PPID 2011, Rabu (12/2). (Foto: Pujianto)

REMBANG, MataAirRadio.net – Lembaga Studi Pemberdayaan Masyarakat (Lespem) Rembang mempertanyakan sikap Kejaksaan Negeri yang hingga Senin (17/2) ini, belum menyentuh aktor lain yang diduga terlibat dalam kasus dugaan korupsi dana PPID 2011.

Koordinator Lespem Bambang Wahyu Widodo menilai, ada beberapa orang yang mestinya diperiksa oleh penyidik terkait aliran dana yang diduga dikorupsi. Dari pengakuan tertulis Abdul Muttaqin, salah satu tersangka dalam kasus PPID, diungkapkan aliran uang hasil rasuah.

Muttaqin dalam testimoni tertulis yang beredar di kalangan para pewarta, menyebut nama MYH, bendahara PT AHK. Selain itu juga WSM, nama Ketua Organisasi Masyarakat Setempat.

Menurut Bambang, nama-nama yang disebut Muttaqin itu mestinya juga diperiksa karena berpotensi sebagai tersangka baru dalam kasus dugaan korupsi senilai Rp1,5 miliar. Dalam hal ini, Bambang juga menilai, jangan sampai muncul kesan; ada yang diselamatkan dan ada yang jadi korban.

Lespem menegaskan, dua orang yang disebut namanya oleh Abdul Muttaqin, mestinya diperiksa secara intensif. Sebab, muncul pertanyaan di kalangan masyarakat tentang siapa MYH dan PT AHK, serta alasan uang mengalir ke sana.

Dalam hal ini, menurut Bambang, penyidik Kejaksaan Negeri Rembang bisa bekerjasama dengan pihak bank pemerintah dan dinas pengelola keuangan, untuk mengungkap aliran dana proyek PPID tahun 2011.

Pihak Lespem juga mengatakan, mestinya tidak ada tebang pilih atau memilah-milah, aktor yang memang terlibat dalam kasus ini. Pihaknya juga mengancam akan melaporkan oknum penyidik yang bermain-main dalam penanganan dugaan korupsi peningkatan jalan sepanjang 6,9 kilometer ini.

Kepala Kejaksaan Negeri Rembang I Wayan Eka Putra menyatakan, tersangka baru berpotensi muncul melalui fakta-fakta persidangan pada kasus PPID. Pihaknya berdalih fokus kepada Agus Supriyanto dan Abdul Muttaqin atau dua tersangka dulu, karena jumlah tenaga jaksa yang dimiliki Kejari Rembang, terbatas. (Pujianto)

Bagikan untuk keluarga Anda!



One comment
  1. gun

    Februari 18, 2014 at 5:41 am

    Formula penegakan hukum di Rembang haruslah mengacu perkembangan terakhir di KPK dan MA.. baik untuk kasus Hambalang dan kasus Dinasti Atut – Wawan… TPPU haruslah tidak bisa tidak untuk dtindak lanjuti sesuai dengan arus air mengalir sampai mana. Sejauh apapaun dan menyangkut berapa orangpun semua harus ditindak tegas. Karena itu biang keladi KORUPSI DIREMBANG!!! Masyarakat sudah tahu soal seluk beluk ANalisa Kekuatan Korupsi yang menggeroti negara. DImana dipastikan pasti ada Orang Partai (Makelar)- Orang dalam birokrasi (oknum)- Orang dekat penguasa (Makelar)- Orang Pemenang Tender – Orang Pelaksana Tender dan Penguasa itu sendiri. Mafioso ini sudah jamak diketahui umum. Siapapun yang ingin memenangkan tender harus dekat dan mencapai kesepakatan dengan orang-orang Mafioso itu. WOnge Kanjenge!!! bisa orangnya salim bisa khafid. Semua pihak-pihak terkait dengan aliran uang korupsi harus ditindak tegas dan diproses hukum supaya ada efek jera dimasa-masa mendatang… Siapa saja gembong-gembongnya Mafia Korupsi Proyek di Rembang masyrakat semua sudah tahu, cukup dengan melihat spetakulernya peningatan harta kekayaan para maling tersebut. sebut saja beberapa diantaranya dari puluhan orang itu, siswanto, kus macan, musafak, dan charis kurniawan!!!

    Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan