Lebaran, Konsumsi BBM Naik Dua Kali Lipat

Rabu, 20 Juni 2018 | 15:14 WIB

Seorang petugas melayani pembeli di SPBU Tireman Rembang, April 2018. (Foto: mataairradio.com)

 

REMBANG, mataairradio.com – Tingkat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan pertamax naik dua kali lipat dibandingkan hari-hari biasa pada momentum Lebaran tahun ini.

Muhammad Syafik, Supervisor SPBU Tireman menyebutkan, tingkat konsumsi premium naik dari 2.000 liter menjadi 4.000 liter.

“Bahkan pernah sampai 6.000 liter. Kenaikan konsumsi ini sejak H-7 Lebaran,” terangnya.

Tingkat konsumsi pertamax naik dari 3,5 kiloliter menjadi 7-8 kiloliter.

Adapun tingkat konsumsi pertalite naik dari 7.000 liter per hari menjadi 11.000-12.000 liter per hari, hingga H+5 Lebaran, Rabu (20/6/2018) ini.

Syafik menyebutkan, tingkat konsumsi BBM yang meningkat dipengaruhi oleh arus mudik dan balik Lebaran.

“Tidak hanya pemudik dari Jakarta dan Surabaya, tetapi juga para pemudik lokal,” jelasnya.

Namun di sisi lain, tingkat konsumsi solar, justru menurun drastis.

“Kalau solar, turun dari sepuluh kiloliter menjadi hanya lima kiloliter per hari,” katanya.

Namun tingkat konsumsi BBM diprediksi kembali normal pekan depan.

Prediksi itu menurutnya seiring masih tingginya mobilitas wisatawan di sejumlah objek wisata di Rembang pada pekan ini dan akan kembali beroperasinya armada angkutan barang per minggu depan.

Syafik menambahkan, selama momentum Lebaran, nyaris tidak ada kendala terkait dengan pasokan BBM, meski terjadi lonjakan konsumsi.

“Memang sempat ada kendala, tetapi hanya persoalan jaringan untuk order,” katanya.

Kendala itu tidak sampai memengaruhi keamanan pasokan. Sebab, sebelum BBM di SPBU-nya habis sama sekali, kiriman dari Pertamina sudah datang.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan