Lasem Disebut Butuh Perekat Antarkomunitas

Selasa, 17 April 2018 | 17:56 WIB

Rumah berlanggam china kuno di Lasem. (Foto: Mukhammad Fadlil)

 

REMBANG, mataairradio.com – Gunadi Kasnowihardjo, arkeolog yang banyak terlibat dalam kegiatan ekskavasi di sejumlah situs bersejarah di Kabupaten Rembang menilai Lasem butuh figur dan sosok perekat antarkomunitas.

Menurut Gunadi, sosok perekat diperlukan karena saat sekarang hampir semua komunitas sudah merasa mampu “menjual” Lasem. Kesannya, tiap komunitas bergerak sendiri-sendiri, dan seperti tanpa konsep yang menyeluruh.

“Sosok perekat ini bisa dari kalangan mana saja, termasuk wakil rakyat. Syaratnya adalah bisa menjaga soliditas antarkomunitas di Lasem,” kata Gunadi dalam sebuah diskusi di Lawang Ijo, Lasem, Ahad (15/4/2018).

Sosok perekat ini, menurut mantan peneliti di Balai Arkeologi (Balar) Yogyakarta, juga mesti menata ritme tentang siapa mengerjakan apa. Apalagi kini sudah ditentukan 60 hektare lahan untuk zona inti tata ruang Kota Pusaka Lasem.

Tanpa seorang yang hadir sebagai perekat, dirinya pesimistis penataan Kota Pusaka Lasem akan mulus. Ia menegaskan, setiap kelompok harus mendapat peran, misalnya siapa yang fokus pada Kampung Pechinan dan lainnya.

“Saya yakin (hadirnya perekat dan pembagian yang jelas porsi peran komunitas) ini akan disambut baik oleh Bupati dan DPRD Kabupaten Rembang. Apalagi, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh komunitas,” tandasnya.

Dalam hal promosi pun, pihak lain termasuk dari luar daerah yang akan membantu, bisa jelas tentang bagian mana saja yang perlu bantuan secara mendesak. Meski tinggal di Yogyakarta, Gunadi menyatakan siap membantu.

Hadir dalam diskusi itu, para pegiat sejarah di Lasem seperti Danang dari Fokmas, Baskoro Pop Rembang Heritage Society, Abdullah Hamid Perpustakaan Masjid Lasem, dan Pedias YUB dari Sekretariat DPRD Rembang.

Abdullah Hamid, pengurus pada Perpustakaan Masjid Lasem berharap kepada semua pihak agar tidak berpangku di atas meja dan menunjukan egonya agar upaya mewujudkan Lasem Kota Pusaka terwujud.

“Soal kesiapan, tergantung pendekatan Pemerintah kepada masyarakat. Semestinya turun langsung ke lapangan guna memahami betul potensi dan tantangan,” terang dia yang juga aktif di Padepokan Sambua.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto

Bagikan untuk keluarga Anda!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan