Krisis Air, Tembakau Petani Rembang Kerdil

Senin, 6 Juli 2015 | 16:57 WIB
Tembakau kerdil gara-gara kekurangan air di wilayah Desa Kebonagung Kecamatan Sulang, Senin (6/7/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

Tembakau kerdil gara-gara kekurangan air di wilayah Desa Kebonagung Kecamatan Sulang, Senin (6/7/2015) pagi. (Foto: Pujianto)

 

SULANG, mataairradio.com – Tanaman tembakau milik petani Rembang mulai terganggu pertumbuhannya alias kerdil. Krisis air seiring kemarau menjadi penyebab utama kekerdilan. Apalagi, rata-rata lahan yang ditanami tembakau jauh dari sungai atau sumber mata air.

Menurut tokoh petani tembakau di Kabupaten Rembang Maryono, jika sudah krisis air seperti sekarang, disirami pun, pertumbuhan tembakau akan sulit maksimal. Sebab, tanah sudah terlanjur kering. Meski demikian, petani tetap memakai embung terpal yang airnya dibeli dari mobil-mobil tangki.

“Mulai banyak tembakau yang kerdil karena kekurangan air. Kalau pun disiram, pertumbuhannya tetap sulit, terutama yang tanahnya kadung kering. Solusi ya pakai embung terpal. Tapi airnya beli dari mobil tangki. Kalau yang dekat dengan sungai atau mata air enak. Tapi kebanyakan kan jauh,” katanya.

Selain faktor kemarau ekstrem yang dipicu El Nino moderat yang melanda Indonesia, termasuk Rembang, faktor tanam juga memberi andil terhadap tidak maksimalnya tembakau. Menurut Maryono, tanam tembakau tahun ini, terbilang mundur dari kebiasaan. Biasanya April, tahun ini baru ditanam bulan Juni.

Mengenai air yang dibeli dari mobil tangki, rata-rata harganya Rp110.000 per rit. Airnya pun mesti pilih-pilih, jangan sampai air payau atau yang terdapat kandungan garamnya, karena bisa merusak kualitas daun. Dalam seminggu, petani butuh rata-rata 3-5 tangki per hektare.

“Selain air, penyebabnya juga karena waktu tanam yang terlalu mundur. Biasanya April sudah tanam, ini sampai Juni. Kalau soal beli air tangki ya mahal. 1 tangkinya Rp110.000. Ini petani sudah habis rata-rata 15 tangki. Kalau kebutuhannya, per hektare, 3-5 tangki dalam seminggu,” ujarnya.

Maryono menambahkan, total luasan tanaman tembakau pada tahun 2015, senyatanya mencapai 2.500 hektare, atau sebagaimana tahun lalu. Dia tak bisa berhitung apakah petani tembakau akan rugi atau tidak di tahun ini. Tetapi diakuinya, bayangan kerugian menghantui, ketika tembakau terus kerdil.

 

Penulis: Pujianto
Editor: Pujianto




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan