Krisis Air, Petani Melon Kaliori “Hijrah” ke Luar Daerah

Jumat, 1 Agustus 2014 | 14:26 WIB
Desa Meteseh Kecamatan Kaliori. (Foto:Pujianto)

Desa Meteseh Kecamatan Kaliori. (Foto:Pujianto)

KALIORI, MataAirRadio.net – Para petani melon dari Desa Meteseh Kecamatan Kaliori kini memilih “hijrah” ke luar daerah. Pasalnya, lahan pertanian di desa mereka sedang krisis air sehingga tak mendukung budidaya tanaman melon. Desa Meteseh dikenal sebagai daerah penghasil melon di Kabupaten Rembang.

Kepala Desa Meteseh Sunarto membenarkan, sekitar 25 orang petani di desanya kini mengembangkan melon di luar daerah. Di antaranya Jakenan dan Winong Kabupaten Pati, serta Bulu, Gunem, dan Pamotan Kabupaten Rembang.

Diakuinya pula, krisis air untuk tanaman melon menjadi alasan utama mereka tak bisa mengembangkannya di daerah sendiri. Pilihan “hijrah” ke daerah lain bahkan luar kabupaten ditempuh, karena mereka terlanjur cocok dengan budidaya tanaman ini. Para petani Meteseh menyebut melon masih menjanjikan.

Tanaman melon kali pertama dikembangkan di Kabupaten Rembang melalui Desa Meteseh, sekitar tahun 1988. Tanaman yang buahnya hampir sempurna bulat, kulit buahnya hijau kekuningan dan agak kasar, serta berasa manis ini, dikenalkan oleh seorang warga Taiwan yang dikenal sebagai Mister Ho.

Sunarto menuturkan, saat pertama kali dikenalkan kepada para petani, budidaya tanaman melon tak langsung disambut hangat. Tanaman ini bahkan sempat ditinggalkan petani untuk beberapa tahun, dengan dalih kesulitan mengembangkan.

Baru setelah mereka rajin melakukan studi banding beberapa bulan ke Karanganyar, para petani bisa menaklukkan susahnya mengembangkan tanaman ini. Melon pun mulai moncer dan membanjiri pasaran Kabupaten Rembang pada masa setelah krisis atau sekitar tahun 1999.

Berdasarkan pantauan pada Jumat (1/8) pagi, tanaman melon petani dari Meteseh yang dikembangkan di luar daerah memasuki masa panen. Beberapa dari mereka bahkan telah memetik dan menjual hasil budidaya melonnya ke Semarang dan Jakarta.

Umumnya mereka menanam 7.000-10.000 batang melon per lahan yang mereka sewa untuk satu kali musim. Mereka memproduksi melon dengan berat rata-rata 1,8-2 kilogram buah per batang dengan harga mencapai Rp7.000 per kilogram pada saat ini. (Pujianto)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Disclaimer: Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi mataairradio.com. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan